Dulu Kita Menyebut Angkot ‘Daihatsu’

0 926

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Sudah menjadi rahasia publik, Bogor dijuluki “Kota Sejuta Angkot”. Walaupun Kepala Daerah datang dan pergi termasuk yang saat ini berjanji akan merubah imej horror yang disematkan pada kota hujan, angkot masih saja menjadi momok yang menakutkan.

Bagi saya, angkot adalah dibuang sayang, dipertahankan pun, ya bagaimana gitu… semua bercampur aduk.

Sedari kecil tahun 70-an, saya sudah akrab dengan angkot. Bedanya dulu berwarna kuning dan ada keneknya seperti bus kota di Jakarta. Pintu masuknya pun terletak di belakang yang sebetulnya bukan pintu, melainkan akses bagian belakang yang lowong dan posisi duduknya “knee to knee” alias adu lutut karena berhadap-hadapan.

Dulu, orang Bogor tidak mengenal kata “angkot” seperti yang kita kenal sekarang. Kata angkot baru populer mungkin di awal tahun 90-an, karena dulu orang menyebutnya dengan “Daihatsu” karena merk mobil yang dipakai untuk angkutan kota dulu memang Daihatsu.

Bagaimana rasanya naik Daihatsu? Pertama, kids zaman now jangan membayangkan angkot saat ini adalah sebuah lompatan teknologi dan inovasi sehingga jauh lebih modern dari Daihatsu, karena sama sekali tidak!

“Daihatsu” tidak berbeda jauh dengan angkot sekarang yang menurut pandangan saya, tidak banyaknya perubahan dari sistem transportasi Bogor adalah buah dari ketidakmampuan Pemerintah Kota selama bertahun-tahun untuk menghasilkan kebijakan yang kreatif atau inovatif.

Saya pun tidak mengerti mengapa bisa begitu, namun sungguh tidak ada satu pun pemimpin daerah Kota Bogor yang melakukan “break thru” alias terobosan. Akhirnya, Daihatsu menurut hemat saya masih lebih “modern” dari angkot saat ini.

“Entry” ke dalam Daihatsu dulu jauh lebih mudah daripada angkot sekarang yang berebut duduk di dekat pintu dan enggan bergeser jika ada penumpang baru yang hendak masuk, sehingga terjadi sebuah “pemandangan” pergulatan antar penumpang yang bersusah payah masuk dan keluar angkot.

Zaman dulu pun keberadaan kenek sudah ada, sehingga saat penumpang naik langsung dimintai ongkos dan ketika turun, dia langsung berlalu saja tanpa harus ke depan menuju jendela dekat sopir, seperti angkot zaman now yang harus membayar kemudian menunggu kembalian hingga akhirnya angkot itu berhenti lama dan berujung pada kemacetan. Ya, macet karena angkot yang menurunkan penumpang itu sedemikian banyaknya.

Daihatsu pastinya akan saya rindukan karena efisiensinya, walaupun jenis mobilnya memang out of date. Jika ingin lebih efisien, Pemkot tentunya harus berani memunculkan jenis transportasi baru yang lebih nyaman dan efisien.

Saya kira sebentar lagi akan banyak janji-janji lahirnya alat transportasi modern bla bla bla. Maklum, sudah masuk musim kampanye. Lihat saja nanti.

 

(Dudi Irawan)

Tinggalkan Balasan