The Journey of Talas Bogor

0 1.096

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Pernah mendengar istilah “tua-tua keladi? Semakin tua semakin jadi?” pasti sudahlah ya. Yang bisa saya bayangkan adalah kebanyakan orang tidak tahu apa arti kata ‘keladi’ yang disematkan di kalimat itu. Keladi adalah kata lain dari talas yang termasyur di Bogor dan mengharumkan nama Bogor di seantero nusantara.

Semakin tua, talas itu memang semaki enak dimakan alias semakin jadi. Saat ini talas yang pamornya sempat redup, kini bangkit kembali setelah produsen-produsen kue di Bogor mengolah jenis umbi-umbian itu menjadi panganan populer dalam bentuk kue-kue yang nge-hits dengan tingkat penjualan yang fantastis.

Setelah sekian lama orang Bogor mencari makanan khas kotanya yang bisa dijadikan icon makanan dengan bahan baku asli Bogor, akhirnya memang tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa talas yang tadinya dibawa pulang oleh pelancong dalam bentuk aslinya, kini bertransformasi menjadi kue-kue lezat hingga kepopulerannya mengalahkan bentuk talas yang aslinya sebelum diolah.

Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan kue berbahan dasar talas di Bogor, tapi saya yakin, awalnya mereka mencari-cari penganan yang memiliki jati diri ‘kebogoran’ yang belum pernah ada sebelumnya karena produk-produk makanan seperti roti unyi dan asinan, walaupun berasal dari Bogor, bahan dasarnya sangat umum ada di Indonesia.

Di zaman ‘old’ talas menjadi penganan sehari-hari masyarakat Bogor karena ia tumbuh di mana-mana terutama dataran tinggi seperti Bogor dan bagusnya, talas ini tidak mengenal musim. Ia bisa tumbuh di musim kering maupun hujan. Seringnya dulu, orangtua-orangtua kita mengkukus talas ini dan menjadikannya camilan sebagai teman minum teh terutama di saat cuaca dingin dan hujan seperti yang sering terjadi di Bogor.

Kids zaman now mungkin tidak begitu doyan atau bahkan mengenal jenis talas yang dikukus ini, tapi sekarang mereka lebih doyan kue kekinian yang dibuat dengan bahan dasar talas yang berwarna warni dan dilapisi krim dan keju.

Talas kini telah sampai pada puncak popularitasnya dalam bentuk kue. Orang bahkan rela antre untuk membeli produk kue talas tertentu. Boleh jadi kepopuleran kue-kue itu lebih besar dibandingkan talasnya sendiri. Talas memang tidak pernah mati, semakin tua semakin keladi!

 

(Dudi Irawan)

Tinggalkan Balasan