Mengenang Putra Terbaik IPB Prof. Andi Hakim Nasution

0 1.467

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Dari nama belakangnya kita dapat mengenali latar belakang etnis seorang Andi Hakim Nasution. Namun Profesor Andi Hakim menghabiskan lebih banyak hidupnya di kota hujan Bogor dan mengharumkan nama almamaternya Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus kota yang teramat ia cintai. Andi Hakim adalah peletak pendidikan statistika di IPB bahkan di Indonesia. Beliau adalah satu-satunya ahli statistika di IPB di zamannya dan seorang ilmuwan yang meletakkan fondasi dasar perancangan percobaan dan analisis statistika dan meluruskan metode para peneliti yang saat itu kerap melakukan percobaan tanpa basis statistika yang kokoh.

Andi Hakim Nasution lahir di Jakarta, 30 Maret 1932. Karena ayahnya adalah seorang Dokter Hewan yang bertugas di Bogor, suami dari Amini Soekadi Nasution ini mengenyam bangku sekolah di Bogor dengan menyelesaikan pendidikan HIS di tahun 1945, SMP di tahun 1948, dan SMA di tahun 1952.

Andi hakim lulus pendidikan strata-1 dengan predikat cum laude dan meraih gelar insinyur, yang saat ini setara dengan gelar sarjana. Ketika itu, IPB masih bernama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia, dan ia adalah angkatan keempat almamaternya. Enam tahun kemudian, dia meraih gelar Doctor of Philosophy di bidang Experimental Statistic dari North Carolina University, Amerika Serikat.

Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan almamaternya mendorong Andi Hakim untuk berkarier di bidang akademis dengan menjadi Dosen dan Sekretaris di Akademi Pertanian Ciawi pada tahun 1958-1965. Di tahun 1966 ia menjadi Dekan Fakultas Pertanian IPB hingga tahun 1969. Di tahun 1971, ia menjadi Direktur Pendidikan Sarjana IPB, Dekan Sekolah Pasca Sarjana tahun 1975, dan Rektor IPB tahun 1978. Sejak tahun 1972 ia menjadi Guru Besar Statistik dan Genetika Kuantitatif. Di tahun 1998-2001 ia menjadi Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Telkom Bandung sekarang berubah menjadi Institut Teknologi Telkom (IT Telkom).

Andi Hakim juga seorang humanis sejati yang memperhatikan dunia pendidikan Indonesia hingga ia menjadi penggagas perekrutan mahasiswa berprestasi yang tidak memiliki biaya untuk kuliah. Sistem perekrutan mahasiswa yang kemudian disebut sebagai Sistem Panduan Bakat ini kemudian menjadi pola perekrutan universitas-universitas top di Indonesia termasuk UI, UGM, dan ITB.

Tulisan-tulisan Andi Hakim Nasution dalam bentuk buku dan artikel di surat kabar sering dimuat di media massa, di antaranya Biometrics, International Rice, News Letter, Harian Kompas, dan lain-lain yang ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami bukan saja di kalangan ilmuwan tapi juga mereka yang awam di bidang yang ditulisnya.

Profesor Andi Hakim mengembuskan napas terakhirnya di RSPAD Jakarta pada 4 Maret 2002 akibat kanker prostat. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka Komplek Bogor Baru Blok A6/4, Bogor, Jawa Barat. Andi Hakim Nasution meninggalkan seorang istri, tiga orang anak, dan tiga orang cucu. Saat itu ribuan almamater IPB kehilangan putra terbaiknya dan Bogor juga kehilangan salah satu tokoh yang menjadi panutan hingga saat ini.

Nama Andi Hakim Nasution kini diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Bogor sebagai penghargaan atas jasanya bukan saja bagi almamaternya IPB, tapi juga kiprahnya yang mengharumkan nama Bogor yang teramat ia cintai.

 

(Dudi Irawan)

Tinggalkan Balasan