Apa ‘Icon’ Kota Bogor Doeloe dan Sekarang?

0 1.209

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Kalau Anda keluar Tol Jagorawi melalui Baranangsiang Bogor, berbeloklah ke kanan, tidak jauh dari belokan itu Anda akan melihat sebuah tugu yang menjulang sekitar 25 meter tingginya. Semua orang Bogor tahu di mana letaknya. Di masa remaja saya dulu di tahun 80-an, Tugu Kujang berdiri sendirian dengan latar belakang Gunung Salak kalau Anda menatapnya dari arah timur ke barat. Gunung Salak dan Tugu Kujang saat itu ibarat satu kesatuan yang tak terpisahkan, seperti ikon yang tak tergantikan dari Kota Bogor walaupun gunungnya ada di wilayah Kabupaten.

Sampai hari ini, orang Bogor kelihatannya bingung dalam menentukan sesuatu yang paling ‘iconic’ dari Kota Bogor. Banyak produsen cinderamata dan kaos meng-‘icon’-kan kujang sebagai ciri khas Bogor, sebagian lagi memutuskan untuk mengasosiasikan rusa atau uncal sebagai simbol kota ini. Kujang dan kijang akhirnya berebut tempat sebagai simbol dan keduanya juga muncul sebagai logo organisasi-organisasi masyarakat dan komunitas-komunitas yang ada di kota hujan. Sebagian lagi yang ingin kelihatan garang, memunculkan kepala macan siliwangi sebagai logo, itu pun biasanya ditemani gambar kujang. Kalau logo macan dan kijang muncul bersamaan sih saya belum pernah lihat, mungkin aneh kalau pemangsa dan mangsanya muncul berduaan sebagai logo organisasi.

Kalau simbol kujang sebetulnya identik dengan Provinsi Jawa Barat, bahkan orang non-Bogor mengenal kujang sebagai senjata tradisional orang sunda secara general dan tidak mereka kenal secara khusus sebagai ‘milik’ orang Bogor. Kalau kijang -setidaknya menurut saya-, memang menempel pada Bogor karena kijang atau rusa berkeliaran di sekeliling Istana, tapi kijang itu dulunya didatangkan dari Nepal oleh Gubernur Jenderal Belanda pada 1808 untuk menghiasai Istana, jadi bukan binatang asli Bogor. Dia jadi banyak sekarang karena memang berkembang biak.

Lalu ada gak ada gak sih binatang mirip kijang tapi asli Bogor? Ada, yaitu saudaranya kijang bernama kancil dan dulu banyak dan sejarah mencatatnya. Bahkan sungai Cipakancilan yang membelah Kota Bogor dinamai dari ‘kancil’ yang dulu sering menepi ke sungai untuk minum. Saking banyaknya dulu akhirnya nama binatang itu disematkan pada sungai itu sampai saat ini. Lalu kemana kancil-kancil itu? Entahlah, kalau punah sudah pasti. Kancil yang paling dekat sekarang adanya sekitar 60 kiloan dari Bogor, tepatnya di Ragunan.

Kalau asinan atau roti unyil bisa dibilang ‘icon’ yang tidak bisa di logo kan karena pasti aneh kalau organisasi lambangnya roti atau toge dan kawan-kawan. Yang pasti roti unyil dan asinan lah yang sangat identik dengan Kota Bogor dan semua orang non-Bogor juga tahu.
Tapi nih, ada satu ‘icon’ Bogor yang sangat bisa divisualisasikan sebagai logo yang sering saya lihat digambar pada desain kaos oleh-oleh Bogor, ia tidak lain adalah angkot. Identik dengan Bogor sudah tidak diragukan lagi, bahkan kalau anda survei pada orang non-Bogor, apa yang ada di kepala Anda jika Anda mendengar kata ‘Bogor’,’ niscaya angkot akan mendominasi hasil survei itu, bahkan mengalahkan kujang dan kijang sekalipun.
Dulu sih saya malu dengan sebutan ‘kota sejuta angkot,’ sekarang sudah tidak lagi. Kalau kata orang sana istilahnya sudah ‘feeling numb’ alias ba’al kana hate saking melekatnya asosiasi angkot dengan Bogor, lagi pula saya pengguna angkot, I have no issues.

Jadi apa icon Bogor menurut Anda? Selain angkot tentunya…

 

(Dudi Irawan)

Tinggalkan Balasan