Rindu Alam yang Kan Dirindukan

0
Warning: A non-numeric value encountered in /www/wwwroot/heibogor.com/wp-content/themes/publisher/includes/func-review-rating.php on line 212

Warning: A non-numeric value encountered in /www/wwwroot/heibogor.com/wp-content/themes/publisher/includes/func-review-rating.php on line 213
767

Heibogor.com – Restoran itu posisinya di tikungan menjelang puncak tertinggi badan jalan wilayah Puncak Pass. Lokasinya adalah ‘the winning position’ karena pemandangan dari restoran itu adalah kelas wahid. Makanannya lumayan walaupun orang lebih sering ke tempat itu untuk membeli suasana ketimbang makanannya. Rindu Alam layak disebut sebagai salah satu restoran dengan view terbaik di Indonesia dan siapa pun yang sudah pernah ke Puncak Bogor, pasti mengenal restoran itu dan sudah pernah mengunjunginya paling tidak sekali dalam hidup mereka.

Restoran legendaris itu kini tinggal kenangan, karena per 30 November kemarin, Rindu Alam resmi diambil alih oleh Pemprov Jabar, artinya restoran itu tidak akan lagi beroperasi karena berdasarkan putusan PN Bandung, tanggal 30 November kemarin tempat ini sudah harus dikosongkan dan asetnya dikembalikan ke Pemprov Jawa Barat dan akan dikembalikan fungsinya menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Restoran Rindu Alam sudah berdiri sejak tahun 1979. Banyak yang belum lahir kala restoran itu pertama kali beroperasi. Ada banyak orang bertanya, siapa sesungguhnya pemilik restoran itu dan bagaimana awalnya sang pemilik mendapatkan ‘privilege’ untuk menempati lahan se-strategis itu.

Pemiliknya tidak lain adalah seorang Jenderal Punawirawan, Jenderal Prn Ibrahim Adjie yang sudah almarhum. Ibrahim Adji membangunannya pada tahun 1979 dan mulai beroperasi setahun kemudian. Saat itu, Ibrahim Adjie telah memasuki masa pensiun setelah sempat menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Inggris. Ibrahim Adjie yang juga sempat menjabat sebagai Pangdam Siliwangi dan mendapat izin dari pemerintah untuk membangun restoran Rindu Alam karena memiliki kedekatan dengan pemerintah yang dipimpin oleh sahabatnya, Presiden Indonesia ke-2 Soeharto.

Ibrahim Adjie dikenal di kalangan militer sangat loyal terhadap Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno dan menjadi orang kepercayaan yang sangat diandalkan oleh Soekarno termasuk dalam menjaga keselamatan anak-anak Bung Karno saat peristiwa G-30 S/PKI Meletus.

Bung Karno adalah orang yang memberi mandat penuh pada Ibrahim Adjie dalam menumpas gerakan radikal Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DITII) pimpinan Kartosoewirjo dimana Ibrahim Adjie diangkat menjadi Panglima Kodam III/Siliwangi di tahun 1960 bersamaan dengan meletusnya pemberontakan DITII.

Jasa Ibrahim Adjie terhadap bangsa ini terlalu panjang untuk dibahas disini termasuk saat menjadi anggota pasukan Siliwangi yang melakukan long march karena Perjanjian Renville yang merugikan Indonesia tahun 1948.

Ibrahim Adjie sempat diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Inggris pada 1966 – 1970 oleh Presiden Soeharto kala itu sebagai upaya Soeharto untuk menjinakkan seorang Ibrahim Adjie yang sangat loyal pada Bung Karno. Pengangkatan itu disinyalir karena Ibrahim juga dekat dengan Soeharto.

Ibrahim Adjie yang lahir di Bogor, Jawa Barat 24 Februari 1924 akhirnya mendirikan restoran Rindu Alam di Jalan Raya Puncak, Kecamatan Cisarua, Bogor saat memasuki usia pensiun dan mendapatkan izin pendirian restoran itu langsung dari karibnya yang merupakan orang nomor satu di Indonesia saat itu, Soeharto atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara. Ibrahim Adjie wafat di Mt Elizabeth Hospital pada tahun 1999 akibat stroke yang dideritanya.

Rindu Alam kini tinggal kenangan dan banyak di antara kita yang akan melewati bekas bangunannya nanti di Jalan Raya Puncak dengan ingatan yang panjang tentang restoran itu dan tetap akan selalu menjadi Rindu Alam yang akan selalu kita dirindukan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.