Lindungi Perempuan dan Anak dari Kekerasan, KPP-PA Luncurkan Puspaga

0 665

Heibogor.com – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA) meluncurkan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Nasional di Hotel Onih, Jalan Paledang No. 52, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Senin (05/09/17). Menteri PP-PA, Yohana Yembise dan dinas terkait membuka kegiatan tersebut dengan menandatangani deklarasi yang bertekad membangun anak dan keluarga Indonesia yang setara dan sesuai dengan hak anak melalui Puspaga.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri PP-PA, Yohana Yesimbe juga memaparkan pentingnya peran perempuan dan anak dalam negara yang maju guna menunjang wacana Puspaga ke depannya. Berdasarkan pengalamannya saat kunjungan kenegaraan, ia menceritakan sebuah negara maju yang memberikan sebuah porsi terkait dengan Family Consultation Center yang bergerak pada bidang keluarga khususnya terhahap perempuan dan anak.

“Negara itu terkenal dengan bebas kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dari situ kelihatan secara langsung, bahwa negara sangat memperhatikan terutama terhadap keluarga. Bahkan, anak muda jadi investasi. Mereka sangat yakin bahwa negara mereka itu akan bertambah kuat dan maju, tergantung dari anak-anak atau generasi muda,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia juga barus memperhatikan hal itu, karena mayoritas masyarakat didominasi oleh wanita dan anak ketimbang pria. Hal itu pun merupakan aset yang sangat besar. Perempuan harus berkiprah membuat perubahan di negara ini.

“Perempuan di Indonesia termasuk yang lebih kuat, dunia kosong kalau gak ada perempuan. Oleh karena itu, perempuan harus dijaga dan dilindungi,” ungkapnya.

KPP-PA meluncurkan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) nasional di Hotel Onih, Jalan Paledang No. 52, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Senin (05/09/17).

Pentingnya perempuan bagi negara, kata dia, sebenarnya sebagai pilar terutama suatu negara. Kaum pria memandang bahwa wanita kodratnya hanya bisa bekerja di dapur. Namun, dengan tegas Yohana mengatakan bahwa hal itu hanya sekadar perspektif belaka, karena perempuan memiliki pandangan yang berbeda.

“Anggaran harus ditambah buat berbicara infrastuktur, otonomi, dan lain-lain. Tapi manusianya itu penting, SDM, perempuan, dan anak juga penting. Dan mengapa sampai anggaran perempuan dan anak sangat kecil, sedangkan berbicara mengenai itu sampai ke desa-desa. Mengenai hal itu saya berani ngomong kepada Presiden,” ujarnya.

Lebih lanjut Yohana mengatakan, masih banyak masyarakat yang belum memahami perempuan dan anak secara komperhensif. Untuk melihat pentingnya hal itu, sambungnya, masyarakat harus sadar terlebih dahulu bahwa banyak kekerasan terjadi di mana-mana, perempuan menjadi korban, negara sebenarnya rugi sampai terjadi kejadian yang membuat perempuan bisa cacat bahkan hingga meninggal karena kekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran, dan sebagainya.

“Saya cukup sedih. Di Indonesia cukup banyak perkawinan dan perceraian. Kita tidak bisa pungkiri itu, namun dampaknya lari ke anak-anak cukup tinggi dan harus kita waspadai. Negara bisa kuat jika perempuan itu kuat. Kalau tidak, negara bisa hancur,” ucapnya.

Saat ini, sudah muncul organsiasi perempuan yang tersebar di seluruh Indonesia dan jumlahnya hampir mendekati jutaan. Organisasi tersebut isinya adalah wanita yang merasa sebagai kepala keluarga. Meski sudah berkeluarga dan suaminya ada, mereka mengatakan bahwa wanita harus berdiri secara independen. Ketakutan seperti ini seharusnya tidak terjadi.

KPP-PA meluncurkan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) nasional di Hotel Onih, Jalan Paledang No. 52, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Senin (05/09/17).

“Zaman berubah. Handphone dan media sosial bisa merubah, bisa membuat keluarga hancur dan itu yang sekarang terjadi di mana-mana. Di negara muslim semua menteri-menterinya sadar bahwa keluarga menjadi prioritas kita sekarang. Anak-anak di daerah konflik mereka semua jadi korban. Anak kita sekarang nikah di usia muda itu menjadi masalah. Perceraian cukup tinggi, anak-anak yang sudah tidak diperhatikan ditelantarkan. Perdagangan anak, dan anak-anak dalam radikalisme. Hal ini yang menyebabkan negara Indonesia harus betul-betul memperhatikan apa yang harus kita perbuat,” tuturnya.

Masih kata Yohana, cerminan masa sekarang ini ialah anak-anak. Mereka adalah cermin suatu bangsa ke depan. Ia mengungkapkan, lihatlah negara yang sudah maju, yang sebenarnya mengutamakan SDM ketimbang infrastruktur, ekonomi, dan sebagainya. Keluarganya sudah bebas dari buta huruf, gizi anak, dan kesehatan maupun pendidikan yang sudah baik. Jika pembangunan infrastruktur lebih didahulukan ketimbang SDMnya, maka hal itu akan sia-sia jika urusan manusianya belum terselesaikan.

“Dunia melihat kita negara yang cukup tinggi korupsinya. Harus kita latih mematahkan mata rantai itu mulai dari keluarga, anak-anak, mahasiswa, dan sebagainya supaya mereka akan muncul di masa-masa kita bebas dari semua. Indonesia masih belum bisa menghargai manusia, sedangkan negara-negara maju ada empat SDM yang diperhatikan yakni perempuan, anak disabilitas, dan lansia. Kalau hal ini dianggap sudah beres, negara itu dianggap kuat," terang Yohana.

Ia pun mengajak untuk memulai hal tersebut dari Puspaga, karena menurutnya, family learning center itu penting agar anak-anak dapat diselamatkan. Melihat berapa kasus kasus terjadi, saat ini banyak anak-anak berhadapan dengan hukum. Pembinaan terhadap keluarga harus ditingkatkan, anak-anak harus diselamatkan karena mereka korban dari orangtuanya hingga akhirnya menjadi pelaku kejahatan.

“Saya sambagi lapas, anak-anak banyak yang harusnya sekolah tapi terpaksa harus mendiami lapas atau lembaga pembinaan khusus anak. Banyak pelaku-pelaku kekerasan dan pencabulan seksual yang dilakukan oleh anak akibat dari salah pengasuhan. Orangtua yang sudah broken dan meninggalkan perhatian, saya harap dimohon memperhatikan hal ini. Jangan ada keluarga yang terkecil sampai ke desa, mohon memberikan pembekalan kepada mereka. Saya mengajak kaum perempuan yang punya hati dan kasih bisa melihat secara langsung permasalahan yang ada di dalam keluarga,” katanya.

Yohana pun berharap, agar anak-anak bisa membawa keluarga-keluarga ini ke depan dan bisa semakin bertambah kuat. Tinggal saat ini bagaimana komitmen dari Pemerintah Daerah. Selain itu, pihaknya juga akan mendampingi agar Puspaga bisa lebih baik lagi.

“Semua provinsi baik itu kapupaten atau pun kota harus membangun ini, sehingga ke depan keluarga Indonesia bisa semakin baik dan kuat, supaya kita bisa mengakhiri semua kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan juga kita mencegah angka perceraian yang cukup tinggi di Indonesia termasuk peredaran anak-anak atau forum perempuan yang tersebar di seluruh Indonesia,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.