Direksi PD Pasar Pakuan Jaya Larang Pegawai Lakukan Pungli

1 559

Heibogor.com – Gencarnya pergerakan tim sapu bersih pungutan liar (Saber Pungli) hingga ketingkat “bawah”, Direktur Operasional (Dirops) Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ) Kota Bogor, Syuhairi Nasution mengimbau kepada para pegawai operasional di PD PPJ Kota Bogor untuk tidak melakukan pungli di lingkungan PD PPJ.

Bahkan sebelumnya, dua orang pemuda asal Kota Bogor berinisial YS (39) dan PD (40) ditangkap oleh aparat kepolisian karena diduga melakukan pungutan liar (pungli) kendaraan bongkar muat barang disalah satu pasar di Kota Bogor.

“Kejadian soal adanya beberapa petugas diluar SKPD kami, yang melakukan Pungli akan menjadi pembelajaran bagi PD PPJ untuk mencegah terjadinya hal semacam itu,” katanya kepada heibogor.com di Kantor PD PPJ Kota Bogor, Senin (14/11/16).

Menangggapi adanya pemanggilan salah satu karyawan PD PPJ yang menjadi saksi terkait kasus pungli disalah satu Pasar Kota Bogor, dirinya menegaskan tidak ada dari karyawan yang terlibat dalam hal itu.

“Ya itu dilakukan oleh oknum dan mohon maaf karena adanya penangkapan ini, kita melarang siapapun untuk menjalankan operasional terkait kendaraan bongkar muat barang di pasar selain petugas dari kami,” tegasnya.

Dia menilai, pemberian tiket bagi kendaraan bongkar muat barang di pasar dan adanya biaya yang dibebankan dari PD PPJ kepada para sopir truk merupakan pemasukan PD PPJ ke dalam retribusi sesuai Surat Keputusan Direksi PD PPJ.

“Ini sudah diatur melalui SK Direksi PD PPJ Nomor 977 Tahun 2015. Kita hidup melalui retribusi ini untuk membiaya operasional di PD PPJ dan tidak menggunakan APBD,” ungkapnya.

Syuhaeri mengatakan, setiap kendaraan bongkar muat barang yang masuk ke pasar dikenakan biaya sebesar Rp 25 ribu permobil dan apabila beratnya diatas lima ton, maka dibebankan biaya yang lebih besar.

“Tentunya mengenai biaya ini juga terdapat didalam SK Direksi tersebut. Intinya, kita imbau kepada semua di PD PPJ untuk tidak melakukan pungli dan memperbaiki diri agar lebih baik lagi,” jelasnya.

Sementara itu Kanit Pasar Bogor Iwan Arif Budiman mengatakan, sebagai warga negara yang baik dirinya memenuhi panggilan Polresta Bogor Kota terkait pemungutan retribusi bongkar muat di pasar Bogor. Dirinya mencoba menjelaskan perihal keadaan bongkar muat di pasar Bogor, Sabtu (12/11/16) lalu.

“Ketentuan bongkar muat itu ada Surat Keputusan dari Direksi PD Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ) Kota Bogor Nomor 977 tahun 2011. Dirinya baru menjabat Kanit Pasar Bogor satu tahun sementara petugas bongkar muat sudah lebih dahulu ada, jadi bukan saya yang merekrut mereka karena mereka lebih dulu ada di pasar Bogor,” ujarnya.

Dia menambahkan, jadi setiap truk bongkar muat dikenakan biaya Rp 25 ribu dan ada 5 petugas, petugas itu sudah bertahun-tahun dan hal tersebut sudah sesuai SK Direksi. Dirinya hanya menjalankan, karena merupakan kebijakan kantor pusat PD PPJ.

“Tetapi saya betugas untuk menjaga agar semuanya kondusif, membina dan menjaga kestabilan setorannya itu saya lakukan karena itu tupoksi kepala unit. Kejadian kemarin sebabnya ditangkap tim saber petugas itu terkesan liar, identitas seperti rompi, topi dan ID card tidak dikenakan oleh mereka. Karcis mereka pegang tapi ada senjata tajam didalam tas salah satu petugas,” tambahnya.

Ia mengakui adanya kelemahan pihaknya dalam pengawasan dengan adanya senjata tajam, untuk besaran pungutan bukan ranah kepala unit. Pola kemitraan bongkar muat ranah pihak pusat PD PPJ, bukan untuk melempar tanggung jawab tapi kalau dirinya mengakui ranahnya itu sudah overlapping dari tupoksi.

“Ketika setoran diturunkan ataupun dinaikan kepala unit tersebut termasuk hal yang salah meski tujuannya baik. Karena harga bongkar muat variatif sesuai kapasitas atau besar mobil. Kenapa tidak direkrut jadi pekerja karena akan membebani ketenagakerjaan PD PPJ,” pungkasnya.

1 Komen
  1. Hendy berkata

    Saya mau tanya, saya memiliki ruko di area pasar bogor. Kita kalau ada barang datang, menurunkan barang di area ruko kami, bukan dilahan pasar bogor. Truk juga milik kami sendiri sampai supir truk pun karyawan kami sendiri. Yang jadi pertanyaa , apakah kita harus membayar bongkar muat dilahan kami sendiri?

    Sudah bertahun2 saya jika ada barang datang itu tidak pernah ada bayar2, hanya bayar biaya parkir, tiba2 suatu hari ada beberapa orang yang memintai, TANPA memakai seragam, id card dll. Tiap datang selalu menanyakan “ada bapaknya ngga?” Tetapi pas ayah saya sedang ditempat tidak ada yg menanyakan hal tersebut. Apakah ada peraturan terkait tentang bongkar muat angkutan barang di wilayah sendiri? Dan apakah segelintir orang tersebut bisa dimasukkan kedalam “pungli”?

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.