Kampus IPB Baranangsiang; di Hamparan Bunga Tapak Randu

0 358

Jika Anda berkendara dari arah Jakarta ke Bogor melalui jalan Tol, keluarlah melalui exit Baranangsiang, kemudian beloklah ke kiri sampai ada putaran untuk berbalik arah di sebelah kanan. Ikutilah jalan itu sampai Anda menemui lampu merah dengan Tugu Kujang berdiri gagah di sebelah kiri Anda. Jika Anda melaju sedikit setelah lampu merah, tengoklah ke sebelah kanan, Anda akan melihat sebuah tanah rumput yang lapang dengan sebuah gedung megah yang berdiri di ujungnya.

Gedung yang Anda lihat adalah salah satu Fakultas dari sebuah Institusi pendidikan yang disegani di negeri ini, bahkan di Asia Tenggara. Ia adalah Institut Pertanian Bogor (IPB), yang aktivitas pendidikannya kini, lebih banyak dilakukan di kampusnya yang lain, yang berada di Dramaga, Kabupaten Bogor.

Kampus Baranangsiang adalah fondasi pertama sekolah itu berdiri. Entah berapa ribu sudah mencetak putra – putri terbaik negeri ini. Walaupun menyandang nama yang berbau agrikultur, para lulusannya banyak yang malang melintang di bidang – bidang yang jauh dari sifat agrikultur, karena banyak institusi dan perusahaan yang mengandalkan daya analisis para lulusannya.

Entah sudah berapa menteri pula yang sudah dicetaknya. Namun, satu hal yang pasti, kampus itu menyimpan sejuta kenangan bagi para almamaternya yang berasal dari seluruh negeri, yang sudah berada jauh dari Kota Bogor, maupun yang memutuskan untuk tetap tinggal di kota yang teramat mereka cintai.

Nama kampus itu dulu adalah ‘Middelbare Landbouwschool’ – pada 1920-an, saat pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk mendirikan sekolah pertanian dan memilih Bogor sebagai lokasi perguruan tinggi tersebut karena banyaknya ahli – ahli botani yang berdomisili di Bogor, laboratorium, lembaga pertanian, serta lokasi-nya strategis untuk pertumbuhan berbagai macam tanaman untuk penelitian.

Perang Dunia ke II sempat menghambat perkembangan perguruan tinggi ini, sampai setelah masa kemerdekaan – tepatnya tanggal 27 April 1952, Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno melakukan peletakan batu pertama yang menandai berdirinya Fakultas Pertanian Universitas Indonesia.

Baru pada 1 September 1963 lah, melalui Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan No.92/1963, Fakultas pertanian yang tadinya bernaung di bawah Universitas Indonesia, kemudian berpisah, dan berdiri sendiri menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB) – yang kita kenal hingga sekarang.

Para alumninya yang lulus di tahun 60 sampai 80-an, masih akan mengingat suasana Bogor dan kampus Baranangsiang saat mereka kuliah dulu. Kampus yang rindang, kabut yang menyelimuti Bogor di pagi hari, dan jalanan yang lengang. Anak – anak IPB dulu akan berjalan sepanjang Jalan Pajajaran menuju kampus mereka, sebagian lagi kos di sekitar Jalan Malabar, yang dahulu tentunya tidak sesak seperti sekarang.

Sebagian dari mereka juga akan mengingat asrama mahasiswa IPB Ekalokasari – sebuah bangunan asrama dengan gaya arsitektur zaman ‘baheula’ yang sudah tinggal nama kini, karena telah berubah menjadi mal. Bukan mantan penghuni saja yang merasa kehilangan asrama itu, warga Bogor pun banyak yang menyayangkan bergantinya bangunan klasik itu menjadi pusat perbelanjaan. Namun, demikianlah pembangunan yang kadang mengikis tempat – tempat yang bersejarah bagi banyak orang.

Banyak dari almamater IPB juga mungkin masih mengingat ‘salju’ di hamparan rumput kampus Baranangsiang. Salju yang dimaksud berasal dari tanaman ‘Tapak Randu’ yang pada musimnya akan menjatuhkan bunga – bunganya yang berbentuk mirip kapas, sehingga saat terdampar di rumput dalam jumlah yang banyak karena tertiup angin. Ia semakin menyebar dan bertumpuk hingga lapangan itu menjadi putih bak lautan salju. Sungguh, pemandangan yang menakjubkan.

Sudah barang tentu banyak cinta yang bersemi di halaman itu, dan entah berapa ribu pasangan yang mengingat perjalanan cinta mereka di antara hamparan tapak randu. Entah sudah berapa banyak pula kisah – kisah patah hati yang diam – diam masih tersisa di relung – relung hati para almamater yang mengenang sepenggal kisah cinta mereka yang memilukan.

Kampus IPB Baranangsiang masih berdiri gagah kini, dan lebih banyak digunakan untuk aktivitas perkuliahan bagi mahasiswa S-2. Kampus itu tetap menjadi sebuah monumen kenangan bagi para almamaternya yang berada di seluruh nusantara, maupun luar negeri. Walau sebuah mal megah sudah berdiri di sampingnya kini, karisma gedung perguruan tinggi itu tak terkalahkan, dan menjadi kebanggan warga Bogor hingga sekarang.

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.