Waspada! DBD Ancam Bogor

0 340

Heibogor.com – Memasuki tahun 2016 penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali mewabah di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk wilayah timur, Kabupaten Bogor. Hingga hari ini, sudah puluhan warga terserang penyakit yang mematikan tersebut. Penyakit yang berasal dari nyamuk aedes aegypti ini, disebabkan karena beberapa faktor.

Salah satunya dikarenakan masih rendahnya keinginan masyarakat, dalam melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Hal tersebut diakui oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Camalia Wilayat Sumaryana, yang membenarkan dengan adanya kecenderungan peningkatan jumlah penderita DBD tahuh ini.

“Pada tahun 2013 kasus DBD mencapai 1.342 kasus, di tahun 2014 mencapai 1.834 kasus, di tahun 2015 mencapai 1.453 kasus dan di minggu kedua tahun 2016 ini, sudah mencapai 40 kasus,” ujar Camelia saat ditemui heibogor.com di kantornya.

Ia menambahkan ada kecenderungan jumlah penderita DBD di tahun ini, yang akan terus mengalami peningkatan. Wanita asli Bandung ini juga menjelaskan, peningkatan penderita DBD saat ini bukan dikarenakan telatnya dilakukan pengkabutan atau fogging. Tetapi karena masih banyaknya masyarakat yang belum membiasakan diri, dengan PHBS.

“Masyarakat saat ini masih rendah dalam melakukan PHBS, saya jamin jika PHBS sudah dilakukan jumlah penderita DBD akan jauh berkurang,” jelasnya. Dinas Kesehatan (Dinkes) sendiri sudah melakukan survei jentik, pemberantasan sarang nyamuk, larvatisasi dengan abate dan fogging di beberapa daerah, yang sudah terbukti banyaknya warga setempat yang terjangkit DBD.

Beberapa wilayah timur di Kabupaten Bogor tersebut diantaranya Desa Dayeuh, Desa Pasir Angin serta 12 desa lainnya yang berada di Kecamatan Cileungsi. Selain itu, DBD juga menyerang Desa Sirna Sari, Kecamatan Tanjung Sari dan Kampung Narogong, Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal. Dengan semakin banyaknya korban jiwa yang berjatuhan, saat ini penyakit DBD di Kabupaten Bogor telah berstatus siaga satu.

Menurut keterangan salah seorang warga Jonggol, yang salah satu keluarganya terkena DBD Yudie Proyogo mengatakan, penyakit DBD ini sangat membahayakan, karena hampir setiap hari Rumah Sakit (RS) selalu kedatangan pasien DBD yang jumlahnya puluhan orang tersebut. “Kejadian ini lebih dahsyat dari peristiwa bom Thamrin, karena penyakit ini sudah menjatuhkan korban sejak bulan Desember tahun lalu,” kata Yudie.

Hal serupa diungkapkan oleh Ketua DPP LSM Balebat 10 Drajat Sudrajat, “Hasil pemantauan tim warga yang terkena penyakit DBD, sudah mencapai ratusan. Bayangkan saja di Kecamatan Cileungsi di setiap desanya hampir 20 orang warga terserang DBD, lalu dikali 12 desa jumlahnya menjadi 240 orang. Itu baru satu kecamatan saja, belum di kecamatan lainnya,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Cileungsi Dokter Deli Mulayati mengatakan kepada heibogor.com, “Penyakit DBD adalah jenis penyakit demam akut, yang disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus, dengan genus flavivirus yang juga dikenal dengan nama virus dengue. Penyakit ini ditemukan pada manusia yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti. Hal ini merupakan siklus 5 tahunan dan melanda wilayah timur Kabupaten Bogor, sejak bulan Desember 2015 lalu,” kata Deli.

Kades Sirna Sari Gofur mengatakan kepada heibogor.com, di wilayahnya saat ini, sebanyak 5 warganya telah terserang penyakit DBD. “Ada 5 warga kami yang terserang DBD, diantaranya di RT 05 RW 03 sebanyak dua orang, di RT 08 RW 04 sebanyak dua orang dan di RT 02 RW 01 sebanyak satu orang. Semua telah dirawat di RS di wilayah Cianjur,” kata Gofur.

Pihaknya terpaksa membawa warganya ke RS di wilayah Cianjur, karena pelayanan RSUD di Kabupaten Bogor dirasa kurang, terlebih terhadap para pasien peserta BPJS. Ironisnya, meski sudah banyak korban yang berjatuhan bahkan meninggal dunia, karena penyakit DBD ini. Namun Dinkes Kabupaten Bogor, belum mengambil tindakan yang signifikan.

Seharusnya pihak Pemerintah Kabupaten Bogor segera turun tangan, agar penyebaran penyakit yang mematikan ini, tidak membuat resah para warga. Sementara itu, menurut Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan, Pemberantasan Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P2KL) Dinkes Kabupaten Bogor Dokter Kusnadi mengatakan, penyakit DBD yang menyerang warga dibeberapa desa di wilayah timur Kabupaten Bogor  ini, baru kali pertama terjadi.

Menurut Kepala Desa (Kades) Dayeuh, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor Jamhali menuturkan, sudah puluhan warganya terserang penyakit DBD. “Tanpa pikir panjang, saya langsung membentuk tim yang terdiri dari petugas posyandu, Perlindungan Mayarakat (Linmas), ketua RT dan RW, serta Karang Taruna,” ujarnya.

Dimana tim tersebut bertugas menangani masalah penyakit menular, bahkan Jamhali langsung membeli alat pengasapan untuk melakukan fogging di wilayahnya. Hal serupa juga dilakukan oleh Pemdes di lingkungan  RT 10 RW 03 Kampung Narogong, Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor yang hampir seluruh ketua RTnya bergerak sendiri, untuk melakukan fogging tersebut.

Sebelumnya telah diberitakan heibogor.com, lebih dari 10 warga Desa Pasir Angin, Kecamatan Cileungsi terserang penyakit DBD. Kepala Desa Pasir Angin Ismail HS menuturkan, “Saya tak ingin semakin banyaknya warga Desa Pasir Angin, yang terkena penyakit DBD. Karena itu jika menunggu bantuan fogging dari Dinkes pasti akan lama. Jadi kami membeli sendiri, alat yang biasa digunakan untuk dilakukannya proses fogging,” katanya.

Meski dalam proses fogging kali ini, tanpa di dampingi Dinas Kesehatan (Dinkes) atau pihak Puskesmas. Namun hal tersebut tidak mengurungkan niat Pemdes, untuk melakukan fogging. Pasalnya penularan penyakit DBD di masyarakat saat ini, sangat mengkhawatirkan bahkan di beberapa desa seperti Desa Kembang Kuning, yang sudah memakan 4 korban jiwa dalam satu bulan.

Menurut keterangan Ketua RT 10 RW 03 Yusuf mengatakan, fogging dilakukan untuk memutuskan rantai penularan DBD yang di sebabkan oleh nyamuk aedes aegypti. “Kami melakukan fogging ini untuk memberantas nyamuk, dan memutuskan penularan DBD yang disebabkan jentik nyamuk aedes aegypti. Saat ini, penyakit DBD di desa kami sudah memasuki status waspada. Karena tercatat, sudah ada 4 warga yang meninggal karena DBD,” ujarnya.

Terkiat dengan masalah penyemprotan fogging, Dokter Deli Mulayati mengatakan ketidaksetujuan jika fogging hanya dilakukan oleh pihak masyarakat secara tunggal, tanpa adanya bimbingan dari pihak-pihak terkait. Dan tidak diikutsertakannya proses fogging dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

“Fogging bukan jalan terbaik yang dilakukan masyarakat, bahkan hal tersebut kemungkinan besar dapat menimbulkan masalah baru, diantaranya kematian pada manusia karena racun fogging. Karena perlu masyarakat ketahui, racun yang dikandung dalam fogging sangat mematikan. Bukan hanya nyamuk saja, tetapi juga pada diri manusia. Karena itu, jika dilakukan asal-asalan tanpa aturan justru membahayakan,” jelasnya.

Ia kembali melanjutkan, seharusnya masyarakat mencari tahu terlebih dahulu syarat-syaratnya, serta tidak lupa untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. “Yang paling penting dilakukan masyarakat untuk mencegah datangnya nyamuk DBD, yakni melalui PSN atau Menguras, Menutup dan Mengubur (3M) tempat air yang menjadi sarang nyamuk. Karena nyamuk mudah bersarang di air bersih seperti bak mandi,  tempayan, dispenser bahkan di tempat air minum burung, yang harus selalu dibersihkan secara berkala,” tambahnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.