Duka Istri Korban Bom Ditinggal Suami dan Diusir dari Kontrakan

0 352

Heibogor.com – Malang sekali nasib keluarga Rais Karna (38) salah satu korban meninggal dunia, akibat ledakan bom di pusat perbelanjaan Sarinah, MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/01/16) lalu ini. Pasalnya istri korban Herlina (41), serta dua orang anaknya Siti Ataya Ramadani (5) dan Kiono Abdulian Parosa (3) telah diusir dari rumah kontrakannya yang berada di Kampung Plered, Desa Pabuaran, Kecamatan Bojonggede Kabupaten Bogor pada Senin (18/01/16) kemarin.

Akan tetapi diusirnya keluarga Rais, bukan dikarenakan keterlibatannya dengan jaringan teroris. Mereka diusir karena sering tidak membayar uang kontrakan kepada pemilik rumah. Menurut keterangan Rizal (30) salah satu tetangga Rais, yang juga mengontrak di rumah kontrakan ibu Sumiati mengatakan, selama tinggal dirumah kontrakan tersebut Rais sering menunggak pembayaran sewa rumah.

Ia menambahkan, “Mengenai keseharian Rais, saya tidak begitu tahu dengan pasti. Karena biasanya ia bekerja pergi pagi pulang malam dan jarang bergaul dengan tetangga, mengenai keluarga Rais yang diusir dari rumah kontrakannya, sebenarnya sudah sejak lama ibu pemilik kontrakan menyuruhnya pindah karena sering telat membayar sewa rumah, ” ujar Rizal kepada heibogor.com, Senin (18/01/16).

Hal ini dibenarkan Sumiati, pemilik kontrakan yang dihuni oleh keluarga Rais. “Saya tidak tahu, kalau Rais adalah salah satu korban ledakan bom Thamrin. Karena itu saya merasa tidak ada beban, ketika meminta keluarga Rais pindah kontrakan melalui SMS dan sudah beberapa kali saya peringatkan dan sampaikan,” katanya.

Ia kembali menjelaskan dirinya baru mengetahui sesaat setelah mengirimkan SMS pada istri korban Herlina, lalu tak lama datang jenazah Rais di rumah kediaman orangtuanya di Kampung Plered RT 03 RW 12 Desa Pabuaran, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Minggu (17/01/16) siang.

“Saya baru tahu saat jenazah Rais tiba di rumah orangtuanya, selain itu salah seorang saudaranya pun memberi tahu tentang kabar duka ini. Saya sudah sering meminta Rais dan keluarganya pindah kontrakan, jauh-jauh hari sebelum terjadinya tragedi bom tersebut,” jelas Sumiati.

Masih kata Sumiati, “Sewa rumah kontrakan ini cukup murah, hanya Rp 500 ribu per bulan. Namun Rais yang mengaku bekerja di salah satu kantor bank asing itu, kerap telat membayar uang kontrakan. Baik rais ataupun istrinya, tidak pernah memberi kabar saat telat membayar kontrakan, padahal waktu tenggang setiap bulannya sudah di tentukan, tetapi Rais dan istrinya selalu saja terlambat membayar dan tanpa kabar, sedangkan disisi lain pengontrak baru banyak yang minat mengontrak,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.