Romantisme Bogor Masa Lalu; antara Harapan dan Tantangan

0 344

Kota yang nyaman, bersih, bebas macet, dan polusi, menjadi idaman dan kebutuhan asasi setiap warga kota, tak terkecuali masyarakat yang menetap di Kota Bogor. Perbincangan mengenai terpenuhinya kebutuhan tersebut, hingga saat ini mungkin masih terus menjadi narasi semu yang belum terwujud dalam tatanan nyata. Selalunya, masyarakat di kota ini hanya bisa bernostalgia dengan situasi dan potret Kota Hujan di masa lalu.

Kota Bogor masa lalu, berbeda jauh dengan kenyataan Kota Bogor saat ini. Pada masa kolonial Belanda, Bogor dikenal dengan sebutan Buitenzorg, yang berarti “tanpa kecemasan” atau “aman tenteram” (Wikipedia). Nama Buitenzorg merefleksikan kondisi Bogor saat itu yang menjadi salah satu destinasi utama untuk peristirahatan. Selain karena memiliki curah hujan yang tinggi, saat itu Kota Bogor masih banyak ditumbuhi pepohonan rindang dan asri.

Setiap 3 Juni diperingati sebagai hari jadi Kota dan Kabupaten Bogor. Hal ini dilatarbelakangi oleh sejarah pada 1482 yang merupakan hari penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja dari Kerajaan Pajajaran.

Perkembangan daerah penyangga Ibu Kota Jakarta saat ini berlangsung begitu cepat, pertumbuhan populasi penduduk, pembangunan mall, ruko, hotel, perumahan, penumpukan sampah, dan lain sebagainya berlangsung dalam intensitas yang tinggi tanpa adanya sinergi, integrasi, dan terkesan tidak terarah.

Kota Bogor saat ini lebih dikenal dengan sebutan ‘Kota Sejuta Angkot’. Lalu lintas yang padat, dengan suhu udara yang panas menjadi realitas yang tidak bisa dimungkiri. Tingkat pertumbahan pengguna kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, tidak diimbangi dengan supremasi aturan lalu lintas yang terintegrasi, dan infrastruktur jalan yang memadai.

Selain berdampak pada kemacetan kota, problem ini juga berimbas kepada melambatnya laju perekonomian warga, mengingat sarana transportasi menjadi elemen terpenting masyarakat dalam menunjang aktivitas kesehariannya.

Kajian akademis atau master plane untuk mengurai problem di Kota Bogor mungkin sudah ada dan sering dilakukan. Namun setidaknya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bisa memulainya dari menggenjot perbaikan infrastruktur jalan raya kota, sekaligus kebijakan terkait pengawasannya.

Berbicara mengenai infrastruktur jalan raya, tidak hanya sebatas tentang tersedianya anggaran di Dinas Pekerjaan Umum (PU), dan realisasi anggaran, melainkan lebih kepada upaya controling berkesinambungan dari Pemkot terhadap pengerjaan proyeknya.

Spesifikasi proyek perbaikan jalan yang dikurangi atau jauh dari standar yang ditentukan, seringkali menjadi modus operandi bagi para broker anggaran, atau pejabat terkait yang tidak bertanggung jawab untuk menggeruk keuntungan. Hal ini akan berdampak kepada daya tahan dan kualitas jalan itu sendiri.

Belum lagi soal tata kelola kota yang tidak memiliki garis kebijakan yang tegas. Hal ini menilik pada sejarah di atas, menjadi sebuah anomali dengan sebutan Kota Peristirahatan. Secara sederhana, pergeseran karakter Kota Bogor yang nyaman pada masa lalu, menjadi membosankan seperti saat ini, bisa terbaca dari realisasi konsep tata kota yang tidak jelas dan kabur.

Visi sebagai “Kota Perdagangan dengan Sumber Daya Manusia Produktif dan Pelayanan Prima” pada 2010-2014, tidak harus menyampingkan hajat hidup dasar warga Kota Bogor yang terkait dengan keindahan dan kenyamanan kota, melainkan seharusnya bisa berjalan seiringan dengan visi yang dirumuskan. Karena bagaimanapun, visi sebuah kota, tetap akan bermuara pada sejauh mana kenyamanan dan ketentraman warganya bisa terjamin.

Selain masalah padat lalu lintas, kota ini juga dihadapkan pada perubahan suhu udara kota pada masa lalu, dengan saat ini. Semuanya bermuara pada semakin berkurangnya tanaman kota, lahan kebun atau sawah sudah beralih fungsi menjadi bangunan Mall, restoran, atau perumahan. Akibatnya, tidak heran jika suhu udara Kota Bogor saat ini menjadi naik, dan suasana kota yang asri menjadi terkikis.

Disepakati atau tidak, saya berkeyakinan jika di benak warga Kota Bogor selalu terlintas pertanyaan besar, bisakah suasana Kota Bogor kembali seperti dulu kala, dengan tanaman yang rindang, pepohonan yang asri, dan nyaman sebagai tempat peristirahatan.

Tulisan ini tidak dalam posisi menjawab pertanyaan tersebut, melainkan hanya sebatas membuka lembaran refleksi baru untuk bahan kontemplasi diri kita masing-masing sebagai warga yang menetap di kota ini.

Menoleh ke masa lalu Kota Bogor, untuk saat ini setidaknya menjadi sebuah keharusan. Bukan sebatas mengenang, atau menyesali keadaan, melainkan untuk membangun keyakinan bahwa harapan itu ada. Hal ini juga bersamaan untuk menyambut pimpinan baru Kota Bogor, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bima Arya dan Usmar Hariman yang akan segera dilantik pada 07 April 2014.

Semua pasti berharap pada sosok Bima Arya sebagai Wali Kota baru untuk menjawab dan membuktikan apakah Kota Bogor masa lalu hanya merupakan sebuah ilusi untuk diungkit kembali, atau justru sebaliknya, Wali Kota kelahiran Bogor ini bisa menghadirkan sebuah solusi.

Tentunya, tanggung jawab di pundak duet Bima dan Usmar tidaklah ringan, dihadapkan pada permasalahan kota yang kompleks, seperti Bogor. Namun, sebagai warga kota yang bertanggung jawab, setidaknya kita harus bisa memahami bahwa sebuah janji dan program bukan perkara putih dan hitam, atau terpenuhi atau tidak terpenuhi.

Realitas ini lebih kepada sejauh mana kesadaran yang kita bangun untuk mendukung dan mematuhi setiap kebijakan yang dicanangkan. Bukan untuk tidak kritis atau apatis kepada pimpinan, melainkan lebih kepada terciptanya sinergisitas antara realisasi sebuah kebijakan, dengan masyarakat untuk wujudnya sebuah harapan yang diimpikan.

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Portal heibogor.com, bisa dihubungi melalui @Zaini_Indonesia.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.