Sisi Lain 6 Nama Jalan di Kota Bogor

0 556

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Kota Bogor tidak hanya menawarkan panorama keindahan wisata, dan kuliner, melainkan juga keunikan dan sejarah nama jalan.

Jalan yang membelah dari Lawanggintung hingga Empang, walaupun jalannya lurus dan tidak terlalu jauh, kurang lebih 2-3 kilo meter, namun terdapat enam nama jalan dengan aneka sejarah dan karakter uniknya. Berikut keenam nama jalan tersebut, sekaligus penjabarannya berdasarkan Wawancara dengan Budayawan Bogor, Eman Sulaeman.

1. Jalan Lawanggintung
Lawanggintung merupakan nama yang unik dan cukup terkenal, apalagi nama jalan ini tidak dipakai oleh jalan lain di Indonesia maupun di dunia. Ada dua versi asal muasal nama ini. Pertama, dahulu tempat ini merupakan pintu masuk ke halaman keraton kerajaan Pajajaran yang berbentuk gapura dari pohon Gintung. Tanaman ini memang banyak terdapat di daerah ini, dan buahnya bernama Gadog.

Versi kedua asal nama Lawanggintung, awalnya di daerah ini terdapat jembatan, atau pintu yang digantung dan bisa diangkat, serta ditutup dengan digeret ke atas dan ke bawah. Dari situlah ceritanya nama itu disebut Lawang Gantung, m=kemudian berubah menjadi Lawanggintung.

2. Jalan Batutulis
Daerah di Kelurahan Batutulis diambil dari adanya prasasti peninggalan Kerajaan Pajajaran. Prasasti Batutulis sendiri dibuat oleh Prabu Surawisesa, Raja Pajajaran kelima yang menceritakan kehebatan dari ayah beliau, Prabu Sri Baduga Maharaja atau lebih dikenal dengan Prabu Siliwangi yang telah wafat pada 1521.

Dahulu di daerah Batutulis ini merupakan daerah Kabuyutan yang tidak sembarang orang dapat bersinggah. Namun saat ini, Batutulis merupakan wilayah padat penduduk, terdapat Istana Batutulis, dan merupakan salah satu ikon wisata Kota Bogor.

3. Jalan Pahlawan
Bila kita menyebut nama Dereded, maka yang kita ingat adalah Taman Makam Pahlawan (TMP) dan penjual nangka yang setiap hari selalu berada di daerah itu. Dari adanya TMP inilah, akhirnya dinamakan Jalan Pahlawan. Demikianlah perjuangan para pahlawan yang diabadikan menjadi nama tempat di Kota Bogor.

4. Jalan Bondongan
Nama jalan Bondongan membentang mulai dari asrama polisi Bondongan, hingga jembatan yang terletak di atas rel kereta api. Selain adanya makam pelukis terkenal Raden Saleh, daerah ini memilki keindahan tersendiri apabila kita berdiri di atas jembatan ketika sore hari menjelang matahari terbenam.

Asal muasal daerah ini bernama Bondongan berasal dari kata sunda yaitu “ngabondong” yang berarti memanggul barang secara beriring membawa hasil bumi untuk dibawa ketempat lain.

5. Jalan Raden Saleh
Jalan Raden Saleh baru diberikan pada tahun 2006, jalan ini diapit jalan Bondongan dengan Jalan Empang. Raden Saleh adalah pelukis dan arkeolog terkenal, beliau asli Bogor dan sudah mengharumkan negeri ini di mata internasional, terutama di benua Eropa. Atas jasa-jasanya, pemerintah Republik Indonesia memberikan gelar pahlawan nasional.

6. Jalan Empang
Sebelum bernama Kampung Empang, kawasan ini dinamakan Kampung Sukahati. Di kampung inilah dulu terdapat benteng Kerajaan Pajajaran, namun karena peperangan yang dahsyat antara Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Banten yang memakan waktu dua hari dua malam, benteng tersebut musnah.

Pertempuran ini terjadi di Kampung Empang, dan berpusat di alun-alun luar keraton. Namun sayang benteng keraton yang terbuat dari batu monolit dijebol oleh prajurit dari Kerajaan Banten.

Tak ada lagi yang tersisa pasca pertempuran itu, karena Raja Pajajaran dan orang-orang setianya pada saat itu berbondong-bondong pindah ke daerah pantai selatan, sedangkan masyarakatnya tidak tinggal lagi di kawasan Empang dan sekitarnya.

Ratusan tahun berselang, Adipati Bogor yang bernama Demang Wiranata (1749-1758) menjadikan Kampung Empang sebagai tempat tinggal. Sebuah lukisan rumah Adipati atau Bupati pada masa Gubernur Jendral Van De Parra (1761-1775), menggambarkan suasana indah dan nyaman rumah Bupati yang berdiri di atas lembah yang di depannya terdapat sebuah empang, asal muasal nama kampung ini sejak 28 November 1815. (Reza/MK)

Tinggalkan Balasan