Munif Sang ‘Batman Beyond’ Rela Tahan Peluh di Balik Kostum Cosplayer Demi Rupiah

Sering Terjaring Razia Satpol PP

0 103

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Jika Anda melewati Jalan Jenderal Sudirman ke arah Air Mancur atau sebaliknya pasti sudah tak asing dengan aksi cosplayer di jalanan pastinya menarik perhatian pengendara jalan.

Kostum yang unik membuat mata para pengguna jalan terhenti dan rela berhenti hanya untuk menyapa dan berfoto selfie. Namun siapa sangka, dibalik tampilan topeng dan kostum yang beraksi tersebut ada sosok yang rela bermandi keringat berjam-jam lamanya demi sekedar pundi recehan dari para pengguna kendaraan yang lalu lalang.

Ia adalah Munif, sosok yang mengenakan kostum superhero Batman Beyond yang kerap tampil di sekitaran Jalan Sudirman, Bogor Tengah, Kota Bogor. Dirinya mulai menjadi Batman Beyond sejak pukul 10.00 pagi hingga 18.00 WIB sore setiap hari. Bahkan, kadang waktu ia jalani hingga tengah malam. Mandi keringat pun sudah jadi makanan kesehariannya.

Pria kelahiran 1978 ini menuturkan, pilihan menjadi cosplayer jalanan dilakoninya dikarenakan susahnya dalam mencari pekerjaan, ditambah tuntutan kebutuhan ekonomi yang kian hari semakin meningkat dan sulit didapat. Dari itu, ia memanfaatkan keramaian jalanan sebagai sumber penghasilan hidup keluarga kecilnya.

“Anak saya empat, setiap hari hasil dari ngamen pakai cosplayer ini untuk kebutuhan sehari-hari,” kata pria asal Lebak Kantin, Sempur, Bogor Tengah, Sabtu (31/5/20).

Dalam aksinya, Munif menunggu lampu lalu lintas berganti merah, kemudian bergegas mengambil ancang-ancang seraya menghampiri satu demi satu pengguna jalan yang melintas sambil melambaikan tangan dan berpose kepada kendaraan yang menghentikan lajunya. Kadang ada juga yang ingin berswafoto dengan memberi uang seikhlasnya yang dimasukkan ke dalam kotak ‘kebesaran’ yang selalu ia bawa.

Munif menuturkan mencari pundi rupiah tersebut harus mengalah dan rela berjibaku dengan panas dan keringatan saat pakai kostum tersebut. Namun, demi mengais rezeki dan tanggung jawab yang dipikulnya, tak menjadi masalah dia melawan panas keringat ketika memakai kostum Batman Beyond, meski ia sesekali melepas topeng dan duduk beristirahat di pinggir jalan. “Jelas panas, keringatan. Hanya bisa mengusap keringat yang bercucuran di wajah. Harus tahan demi keluarga,” senyumnya.

Tampil menggunakan kostum Batman Beyond bukanlah baru kemaren sore dilakoninya. Dirinya sudah menjadi Batman sejak 2016 lalu. Waktu itu, ia tampil di sekitar lapangan Sempur setiap Sabtu dan Minggu. Ia pun menerima jasa panggilan untuk menghibur di acara-acara santai seperti ulang tahun. Disamping itu, pernah juga ia ikut tampil menghibur pengunjung di wahana wisata air The Jungle dengan beberapa cosplayer lainnya.

“Dulu kerja sampingan lainnya jualan. Kadang juga jadi ojek daring. Karena keadaan makin sulit akhirnya tidak ada lagi pekerjaan. Sekarang pekerjaan ini saja yang saya jalani. Memanfaatkan hari libur, banyak pengendara lewat. Alhamdulillah hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan hari-hari,” terangnya.

Munif mengaku, kostum Batman Beyond ini ia buat sendiri dengan menggunakan bahan spons, lem, dan cat pewarna. Ilmu itu, ia pelajari secara otodidak lewat sebuah kanal di youtube.

“Dalam sebulan suka ada aja yang minta dibuatkan. Pernah ada yang minta dibuatkan kostum Deadpool, Spiderman, tapi saya tolak karena keterbatasan alat dan belum percaya diri takut hasilnya mengecewakan. Ada sih keinginan menekuni secara serius tapi terkendala di alat dan modal,” bebernya.

Namun belum lama ini, Munif tengah mengerjakan pesenan seorang dokter di RS Vania. “Pesanan yang belum lama ini saya buat adalah emblem Batman untuk dikombinasikan dengan Alat Pelindung Diri (APD) nya dr. R. Erric. Manibuy. Selain itu, ia juga minta dibuatkan emblem tokoh superhero Kamen Raider. Proses pembuatannya sekitar dua minggu,” terangnya.

Selain cuaca hujan, dis ssi lain, Munif juga merasa gelisah dan waspada jika ada razia dari Satpol PP yang menjaring pencari nafkah di jalanan seperti dirinya. Beberapa kali, ia harus menebus saat atributnya dirazia.

“Namanya kerja di jalanan pasti ada saja halangan. Tapi namanya kehidupan ya begini, kami butuh kerja untuk hidup, keluarga juga butuh makan. Meskipun sebenarnya pekerjaan ini tidak mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Bahkan, banyak orang yang senang, pada nyapa dan ingin berfoto,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan