Berikut Protokol Kesehatan Kegiatan Keagamaan di Masjid

0 46

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Berdasarkan surat edaran (SE) Wali Kota Bogor Nomor : 440/1814-Hukham, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menerapkan protokol pencegahan penyebaran COVID-19 di lingkungam Masjid.

Masjid diperkenankan melakukan kegiatan keagamaan dengan menerapkan protokol sebagai berikut :
1. Menyediakan sarana cuci tangan pakai sabun;
2. Menerapkan jaga jarak antara sesama jamaah sekitar 2 meter;
3. Melakukan pemeriksaan suhu tubuh jamaah;
4. Dianjurkan membaca ayat-ayat pendek;
5. Menggunakan masker bagi pengurus maupun jamaah;
6. Mempersingkat pelaksanaan khutbah dan itikaf;
7. Membawa sajadah masing-masing;
8. Tidak berdesakan ketika masuk dan keluar mesjid;
9. Tidak berjabat tangan dan berpelukan;
10. Membaca Al Quran dari HP atau mushaf pribadi;
11. Bagi jamaah yang kurang sehat atau memiliki gejala demam, batuk, flu dan sesak nafas tidak diperkenankan untuk berjamaah di mesjid;
12. Jamaah diprioritaskan bagi warga setempat sekitar mesjid atau jamaah tetap mesjid;
13. Mesjid yang diprioritaskan untuk dapat melakukan kegiatan keagamaan bukan berada pada jalur transit;
14. Mengaktifkan mesjid sebagai pusat edukasi peningkatan iman dan kewaspadaan terhadap penyebaran COVID-19;
15. Mengefektifkan peran mesjid sebagai lumbung pangan terhadap warga yang terdampak ekonomi akibat COVID-19;
16. Sebelum melaksanaan kegiatan keagamaan di mesjid dianjurkan wudhu di rumah;
17. Pelaksanaan ibadah di mesjid tidak mengajak anak di bawah 15 tahun dan lanjut usia tetap sholat di rumah.

Wali Kota Bogor, Bima Arya menyampaikan, masjid-masjid diperkenankan melakukan kegiatan keagamaan dengan syarat pengawasan ketat dari Gugus Tugas dengan menerapkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19.

“Pemkot bersama-sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI), menyepakati untuk merumuskan suatu protokol kesehatan untuk meminimalkan penyebaran (Covid) agar rumah ibadah bisa tetap melaksanakan aktivitas keagamaan,” ujar Bima dalam keterangan resminya melalui saluran online, Kamis (28/5/20),

“Saya juga sudah menandatangani Surat Edaran Wali Kota tentang kegiatan keagamaan, khususnya di masjid. Tetapi pada prinsipnya, seluruh rumah ibadah termasuk juga gereja, vihara, pura, kita minta untuk memberlakukan protokol kesehatan yang sangat ketat. Jadi, bagi gereja atau masjid dan rumah ibadah lainnya yang siap dengan protokol kesehatan yang ketat, Insya Allah akan diizinkan untuk melakukan kegiatan ibadah secara bersama-sama,” tambahnya.

Bima mengatakan, masjid yang diperkenankan melakukan kegiatan keagamaan adalah yang mengikuti pedoman-pedoman dalam Surat Edaran. Pengurus DKM bisa mengirimkan permohonan kepada kelurahan untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah kota untuk diputuskan masjid-masjid yang bisa diawasi dan diberlakukan ibadah bersama.

Bima Arya juga memerintahkan camat dan lurah berkomunikasi dengan seluruh tokoh-tokoh untuk mengaktivasi tempat-tempat ibadah sebagai pusat edukasi dan juga lumbung pangan atau logistik.

“Kami berharap, tempat-tempat ibadah aktif mengambil peran, tidak saja untuk mengedukasi warga tetapi juga bisa menjadi tempat alternatif untuk pusat logistik, lumbung pangan selain dapur-dapur umum yang kita aktivasi di setiap kelurahan,” ungkapnya.

Sementara, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Bogor, KH Ade Sarmili mengatakan, ada sekitar 80 persen masjid dari total sekitar 875 unit masjid di Kota Bogor yang sudah siap dengan protokol kesehatan. Itu mereka sudah paham. Kalau sempurna mungkin tidak, tapi minimal sebagian persyaratan yang sudah siap.

Kalaupun ada masjid yang tidak memiliki syarat protokol kesehatan, sambungnya, Islam memiliki keringanan yang lain, yakni sholat Jumatnya diganti dengan sholat Dzuhur seperti sebelumnya. Yang kedua, bagi masyarakat yang sudah diindikasikan sakit, atau dia khawatir terpapar virus maka boleh tidak melaksanakan sholat Jumaat atau solat berjemaah lainnya di masjid tapi mengganti dengan solat di rumah. Inilah kemudahan yang Allah berikan kepada hambanya agar tidak memaksakan diri terhadap ibadah yang dikerjakannya.

“Pemerintah memberikan kebijakan ini bukan berarti bisa bebas, tetapi ada persyaratan-persyaratan tertentu yang dilakukan oleh masjid. Tujuannya agar penyebarannya tidak kemudian menjadi kluster baru di tengah masyarakat. Bila masjid sudah siap dengan protokol kesehatan yang disampaikan Pak Wali itu silahkan dibuka,” ungkap Ade Sarmili.

Ade Sarmili juga mengatakan, bahwa ibadah dengan kondisi physical distancing tetap sah. “Ketika terjadi physical distancing saat beribadah tidak menjadi persoalan. Tetap sah sholatnya. DKM juga diminta untuk mengedukasi ini kepada jamaahnya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan