“Belum Saatnya Longgarkan PSBB”

0 17

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Masih tingginya angka kasus Covid-19 di Bumi Tegar Beriman membuat Bupati Bogor, Ade Yasin menilai relaksasi atau pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) belum waktunya diterapkan. Mengingat berdasar data Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor masih adanya kenaikan jumlah kasus positif.

Hingga Rabu (13/5/20) pukul 20.00 WIB terdapat dua kasus baru positif dan tujuh pasien PDP meninggal dunia. Adapun dua pasien terkonfirmasi positif Covid-19 adalah laki-laki, 45 tahun asal Gunung Sindur dan laki-laki, 30 tahun asal Kecamatan Cileungsi.

Kemudian, tujuh pasien PDP yang terkonfirmasi meninggal dunia adalah: Laki-laki, 43 tahun asal Cigombong, Perempuan, 20 tahun, asal Sukajaya, Perempuan, 25 tahun, asal Rumpin, Perempuan, 61 tahun asal Leuwiliang, Laki-laki, 59 tahun, asal Rancabungur, Perempuan, 90 tahun, asal Kemang dan Laki-laki, 75 tahun, asal Kemang.

“Mengacu data-data tersebut, maka kami menilai relaksasi atau pelonggaran PSBB belum waktunya diterapkan. Apalagi kebijakan memperbolehkan warga usia di bawah 45 tahun beraktivitas kembali di tengah pandemi,” kata Ade Yasin dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5/20).

Ade menilai kasus Corona belum seluruhnya terlihat. Menurutnya, melonggarkan PSBB bisa dilakukan jika puncak pandemi ini telah terlewati. Yakni, ketika jumlah terinfeksi baru semakin menyusut dan jumlah meninggal turun drastis.

Ia mencontohkan, paparan Covid-19 tidak memandang umur. Dua orang yang terinfeksi asal Kabupaten Bogor masih berusia di bawah 45 tahun. Termasuk pula kasus PDP yang meninggal. Dari total tujuh, terdapat tiga pasien yang meninggal berusia di bawah 45 tahun.

“Selain itu, data secara nasional, sebanyak 47 persen masyarakat terjangkit Corona berusia 45 tahun ke bawah. Jadi, pendapat yang mengatakan mereka yang usia di bawah 45 tahun lebih tangguh dan tahan menghadapi Covid-19 tidak betul. Sebab data menunjukan hampir 47 persen yang terjangkit,” ujarnya.

Oleh sebab itu, kata Ade, rencana pemerintah pusat untuk memberikan relaksasi PSBB kepada wilayah seperti Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Jawa Tengah, sebaiknya tidak tergesa-gesa dan harap dipikirkan kembali. Apalagi kebijakan memperbolehkan warga usia di bawah 45 tahun beraktivitas kembali di tengah pandemi. Menurutnya bila ingin PSBB dilonggarkan, maka harus ada kedisiplinan diri dari masyarakat untuk membatasi diri sendiri. Sementara PSBB yang sudah dilakukan selama dua tahap saja belum optimal dilaksanakan.

Berdasarkan hasil evaluasi PSBB, tingkat kedisiplinan masyarakat juga masih rendah. Hanya 40 persen warga yang mematuhi ketentuan dalam PSBB seperti larangan keluar rumah, memakai masker dan physical distancing. Sehingga, ketidakpatuhan warga terhadap PSBB ini mengakibatkan jumlah pasien positif Covid-19 jadi bertambah.

“Presiden sendiri menginginkan bahwa PSBB harus ketat dan efektif. Jadi bagaimana mau ketat dan efektif kalau PSBB malah dilonggarkan? Relaksasi PSBB itu memang tidak mudah dan tidak boleh buru-buru. Apalagi dari sisi medis Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga menyatakan pelonggaran PSBB belum waktunya diterapkan. Keputusan pelonggaran PSBB dikhawatirkan malah bisa berdampak pada penambahan kasus Corona, sehingga tujuan awal PSBB menjadi tidak terlaksana,” bebernya.

Sebelumnya, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Manardo menyatakan pemerintah tengah mencari titik keseimbangan agar masyarakat tidak terpapar Covid-19 termasuk tidak terpapar PHK. Salah satunya dengan mempersilahkan masyarakat berusia 45 tahun ke bawah untuk beraktivitas kembali di tengah pandemi.

“Kelompok ini tentunya kita berikan ruang untuk bisa beraktivitas lebih banyak lagi, sehingga potensi terpapar karena PHK akan bisa kita kurangi,” kata Doni Monardo dalam konferensi pers virtual, Senin (11/5/20) lalu. Menurutnya, kelompok warga usia di bawah 45 tahun dianggap memiliki kerentanan yang lebih rendah dibanding kelompok usia lebih tua. Ia menilai, bila terpapar virus, kelompok ini tidak gampang jatuh sakit.

“Kelompok muda usia di bawah 45 tahun, mereka adalah secara fisik sehat, mereka punya mobilitas yang tinggi dan rata-rata kalau mereka terpapar, mereka belum tentu sakit. Mereka tidak ada gejala,” katanya. Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Donny Gahral Adian mengatakan pemerintah belum memutuskan kapan akan memberlakujan relaksasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Ia menyebut, kajian internal yang dilakukan kementerian tertentu belum bisa dijadikan pegangan, termasuk kajian internal dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Menurutnya, pemerintah belum mengetahui secara pasti kapan puncak wabah Covid-19 di Indonesia untuk melonggarkan PSBB. “Kalau ada kajian internal dari Kementerian Perekonomian yang telah menyebut tanggal kita akan relaksasi, itu sebenarnya belum bisa dijadikan pegangan,” ujar Donny dalam diskusi online, Rabu (13/5/20) kemarin.

Tinggalkan Balasan