Banyak Korban Jiwa, Warga Bogor Hindari Keramaian

0 75

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Awalnya warga Kota Bogor belum semua taat atas himbauan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor agar mengurangi aktivitas di luar rumah terkat penyebaran virus corona (Covid-19). Hal itu terlihat dengan masih banyaknya warga yang

menjalani aktivitas seperti biasa, bahkan sejumlah ruas kendaraan terbilang cukup padat.

Pantauan wartawan, pada  Senin (23/3/20), jumlah kendaraan menuju akses tol di Terminal Baranangsiang cukup padat. Kendaraan yang menuju Jalan Otista juga terbilang padat, meski sedikit lengang dari biasanya.

Di Jalan Djuanda juga sedikit ramai, dan aktivitas beberapa titik di Kota Bogor masih terlihat seperti biasa.

Beberapa kerumunan masih terlihat di sekitar Jembatan Merah, jembatan penyebrangan orang (JPO), Stasiun Bogor dan depan Lapas Paledang Kota Bogor.

Namun pada Selasa (24/3) Rabu (25/3) aktifitas warga di pusat keramaian mulai menurun. Bahkan pada Rabu (25/3/20) yang bertepatan dengan libur nasional Hari Raya Nyepi tidak ada aktivitas olahraga di sekeliling Kebun Raya Bogor (KRB), Begitu juga kendaraan ke arah Terminal Baranangsiang cukup lancar dan Jalan Otista juga sama lancarnya.  Hal ini tak lepas dari mulai sadarnya mayoritas warga Kota Bogor terkait bahayanya virus corona atau Covid 19 dan sudah banyak korban jiwa di Indonesia umumnya dan di Kota Bogor khususnya, sehingga warga mulai mengurangi aktifitas di luar rumah. ‘’Jujur saya sekarang ngeri keluar rumah, sudah banyak yang meninggal dunia di Kota Bogor gara-gara Corona,’’ Didin Nuryadin (42) warga, Lawanggintung, Kecamatan Bogor Selatan.

Sedangkan Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, Dody Wahyudin mengaku jika jumlah kepadatan kendaraan relatif lebih lengang selama sepekan terakhir. Menurutnya, pengurangan beban kendaraan tak lepas dari imbauan pemerintah termasuk dari Pemkot Bogor, untuk pembatasan aktivitas.

Jalan Djuanda dan beberapa jalan protokol lainnya terlihat lengang setelah Pemkot Bogor menghimbau warganya agar tidak melakukan aktifitas di luar rumah.

“Sesuai hasil pengamatan dan penghitungan secara manual, beberapa ruas jalan setelah ada intruksi pemerintah ada beberapa ruas jalan yang secara signifikan mengalami penurunan,” ujar Dody.

Salah satunya di Jalan Pajajaran dari akses pintu keluar tol Jagorawi, begitu pun dari arah sebaliknya dan pintu tol Pajajaran dari arah Tajur menuju Otista sangat signifikan penurunannya.

“Rata-rata volume kapasitas perhati sebelum aad wabaa corona ini dari 0,8 pada jam sibuk menjadi 0,6 pada jam sibuk,” ucapnya.

Sedangkan, Kabid Dalops Satpol PP Kota Bogor Theo Patrocino Freitas mengatakan, Satpol PP Kota Bogor mengerahkan tim untuk melakukan patroli dan membubarkan paksa ketika ada kerumuman masyarakat.    “Baru mulai Senin (23/3), kami mengimbau masyarakat untuk menghindarin kerumunan untuk meminimalisir penyebaran Covid-19,” ucapnya.

Di hari pertama patroli, tim bergerak mulai dari Kecamatan Bogor Timur di sekitar Tajur kemudian ke Suryakancana, Jalan Mayor Oking dan MA Salmun. “Sanksi tidak ada, kita hanya membubarkan kerumunan saja,” tambahnya.

 

Dinkes Sosialisasikan Social Distancing

 

Grafis

Dinkes Kota Bogor semakin gencar mensosialisasikan social distancing atau meminta masyarakat untuk menghindari hadir di pertemuan besar atau kerumunan orang.  Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kota Bogor, dr. Oki Kurniawan mengatakan bahwa sosial distancing ini untuk mengurangi kontak langsung antar sesama individu secara dekat.

Hal ini penting untuk mengurangi atau antisipasi untuk pencegahan penularan covid 19 atau corona. “Jarak kontak dengan orang lain standarnya satu hingga dua meter karena jarak drop plat (bakteri atau virus yang menempel di cairan atau air liur) itu muncrat tidak akan sampai ke dua meter, karena kan kita tahu orang itu beda-beda ada yang memang ketika bicara muncrat, atau ketika bersin dan batuk tidak ditutup,” katanya beberapa waktu lalu saat ditemui di Kantor DPRD Kota Bogor.

Menurut dia, bila masyarakat tidak mengikuti social distancing maka penularan virus dari yang sakit ke orang lain kemungkinannya cukup besar di lingkungan masyarakat tersebut.“Iya artinya virus tidak akan menular dari jarak tersebut (jarak sosial dintancing), karena selama ini penularan masih melalui drop plat,” katanya.Walaupun mungkin mengecewakan mendengar bahwa begitu banyak acara olahraga, festival, dan pertemuan lainnya dibatalkan, ada alasan kesehatan masyarakat untuk tindakan ini. Pembatalan ini membantu menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit yang memungkinkan sistem perawatan kesehatan untuk lebih siap merawat pasien dari waktu ke waktu. Membatalkan acara yang cenderung menarik perhatian banyak orang adalah contoh social distance. Social distance sengaja meningkatkan ruang fisik antara orang-orang untuk menghindari penyebaran penyakit.

Tinggalkan Balasan