Cerita Oting Lewat Sharaga Art Sulap Limbah Pipa Jadi Kerajinan Tiga Dimensi

0 192

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Berbagai upaya untuk mengurangi dan mengolah limbah terus dilakukan masyarakat guna menciptakan lingkungan yang asri dan sehat. Tak terkecuali bagi Oting Supriatna (41) yang dapat mengubah limbah pipa air (paralon) menjadi berbagai bentuk kerajinan 3D bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah di dapur kerjanya, Sharaga Art.

Warga Perumahan Taman Cibinong Asri Blok 02 No. 24 ini memanfaatkan limbah pipa air atau paralon menjadi kerajian multifungsi sebagai upaya mengurangi limbah dan menjaga keasrian lingkungan di sekitar kampungnya yang juga dijuluki sebagai Kampung Paralon. Ia biasa membuat kerjaninan berupa tempat tisu, nampan air mineral, lampu hias hingga karya seni 3D lainnya.

“Biasa menggunakan bahan rongsok (limbah) untuk menjaga lingkungan dari limbah. Karena paling tidak limbah ini dapat dimanfaatkan,” kata Oting kepada heibogor.com, Jumat (13/3/20).

Awalnya, tahun 2015, pria yang tertarik dengan kesenian ini ‘iseng’ membuat gelang menggunakan bahan dasar paralon yang kemudian ia merasa tertarik untuk membuat kerajinan lainnya berbahan paralon bekas, sampai ia tertantang kemudian menjadi hobinya sejak itu.

Ia menceritakan hasil karyanya sempat dilirik oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) guna menanggulangi sampah (recycle) di kampungnya sekaligus turut serta dalam berbagai perlombaan DLH di tahun 2018. “Dalam Bogor and Clean waktu itu kita menyabet gelar kampung pengolahan limbah terbaik, kampung ekonomi kreatif serta best performance di acara tersebut,” ungkapnya.

Tak tanggung-tanggung, karyanya pun sudah sampai ke tangan Bupati Bogor Ade Yasin dan Wakil Bupati Iwan Setiawan tahun 2019 lalu. Tak mengherankan bila dirinya dapat meraup keuntungan jutaan rupiah perbulannya.

Meski ia mengaku penjualan karyanya masih sebatas mulut ke mulut dan belum melalui sistem online. Namun karyanya sudah sampai hingga ke Semarang, Surabaya, Pangkal Pinang bahkan Ukraina. Karyanya dibanderol dengan kocek mulai dari Rp. 3 ribu hingga yang termahal Rp15 juta. Tergantung dari tingkat kesulitan dan bentuknya.

Dalam pembuatan karyanya, ia dapat menyelesaikan 1 sampai 2 jenis kerajinan dalam waktu satu hari. “Tergantung pesanan juga, tapi biasanya 1 sampai 2 jenis dalam satu hari. Paling banyak pesanan itu dalam bentuk nampan minuman dan kotak tisue yang harganya Rp. 150 ribu per unit,” jelasnya.

Selain itu, Oting mengaku akan terus mempertahankan idealisnya menjadi seorang pengrajin karya 3D berbahan dasar paralon guna mengurangi limbah di kampungnya agar dapat dimanfaatkan, sekaligus ingin mempertahankan citra kampungnya sebagai Kampung Paralon.

Tinggalkan Balasan