Jadi Pengungsi Punya Potensi Atlet Karate Warga Asing Torehkan Prestasi

0 161

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Salah satu club karate yang menarik perhatian penonton dan peserta lainnya di event kejuaran Pakuan Karate Championship adalah Cisarua Refugee Shotokan Karate Club (CRSKC). Club ini, beranggotakan atlet-atlet warga asing yang merupakan pengungsi yang menetap di daerah Cisarua, Kabupaten Bogor.

Dalam event ini, CRSKC menurunkan 4 orang atletnya, dua laki-laki dan dua perempuan untuk bertarung di kelas komite. Mereka berharap dengan mengikuti ajang pertandingan ini, meski status kewarganegaraan mereka masih belum jelas, mereka bisa bereksistensi mengasah potensi dan meraih prestasi saat melakukan aktivitas sosial dengan orang Indonesia melalui ajang olahraga.

Administratif Manager of CRSKC (Cisarua Refugee Shotokan Karate Club), Ashraf Jawadi mengatakan, ini adalah turnamen keempat yang diikuti setelah Ciomas Cup, Bogor Open Karate, dan Dispora Cup. Motivasi atletnya mengikuti kejuaraan ini adalah mengukur kemampuan setelah berlatih. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada pihak GOR yang telah memfasilitasi para atletnya.

“Yang menjadi kendala yaitu atlet-atlet kami tidak dapat membawa nama dojo ini. Jadi, setiap turnamen yang diikuti harus berafiliasi dengan GOR karena kita tidak punya identitas dan bantuan finansial dari NGO,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, CRSKC sudah berjalan sejak tahun 2016. Tercatat ada 30 warga pengungsi dari Irak, Iran, Afganistan, Pakistan, yang berlatih di sini menjadi atlet karate, futsal, boxing, dan taekwondo. Di tengah keterbatasan, mereka tetap semangat berlatih melakukan persiapan-persiapan untuk mengikuti turnamen-turnamen yang bisa diikuti. Karena mereka semua punya potensi bahkan pernah menjuarai beberapa turnamen.

“Harapan kami adalah ingin menunjukkan kepada dunia bahwa walaupun pengungsi mereka punya potensi, mereka masih memiliki harapan dengan memanfaatkan potensinya dan bisa menoreh prestasi, bisa ikut turnamen sebagai ajang eksistensi diri dan aktifitas sosial dengan orang lokal melalui olahraga. Menjadi Refugee bukanlah masalah tapi bagaimana menjadikannya seni penyelesaian masalah dan seni bertahan hidup,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan