PFI: Jangan Asal Klaim Hasil Foto Jika Tak Mau Kena Denda dan Pidana

0 87

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Hari kedua pameran foto jurnalistik Bogor Dalam Bingkai V yang diselenggarakan oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bogor, Rabu (19/2/20) di Mal Botani Square Lantai 2 diisi dengan acara bincang fotografi yang mengangkat tema pembahasan “Foto Jurnalistik dan UU HAKI”. Hadir selaku pembicara di acara bincang fotografi ini, Ketua PFI Pusat yang juga fotografer antarafoto.com, Reno Esnir didampingi Ketua PFI Bogor, dari media wartapakwan.co.id, Tjahyadi Ermawan.

Ketua PFI Pusat, Reno Esnir mengungkapkan, perkembangan teknologi yang semakin pesat di Indonesia, berdampak terhadap foto jurnalistik. Karena, banyak masyarakat atau media saat ini, dengan sengaja mengambil karya foto para pewarta.

Reno sapaan akrabnya mengatakan, dalam pasal 24 aspek hukum Fotografi Jurnalistik Indonesia menyebutkan, bahwa jika ada atau diketahui foto diambil secara sengaja tanpa ada izin atau konfirmasi kepada pencipta foto tersebut, maka sang pemotret berhak menuntut Hak Ciptanya. Menurutnya, suatu ciptaan foto tentunya tidak boleh diubah walaupun Hak Ciptanya telah diserahkan kepada pihak lain. Terkecuali dengan persetujuan ahli atau warisnya dalam hak cipa tersebut.

“Sekarang kan banyak yang asal comot foto di Indonesia. Ini tentunya salah satu perhatian kita juga untuk lebih diperhatikan oleh Dewan Pers. Agar peraturannya semakin diperjelas,” katanya.

Ia menjelaskan, barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat satu atau pasal 49 ayat satu dan dua, bisa dipidanakan paling singkat satu bulan. Hal itu, jika melakukan pengambilan foto dan diakuisisi secara sepihak tanpa ada konfirmasi terhadap sang pencipta foto.

“Dendanya itu paling sedikit Rp1 juta, atau paling lama hukumannya tujuh tahun, denda paling banyak Rp5 miliar, dan barang siapa yang menyiarkan dan memamerkan, mengedarkan, terkait hak cipta foto paling lama dipenjara lima tahun, dendanya pun paling banyak Rp500 juta rupiah,” ungkapnya.

Ia pun menyatakan, bahwa saat ini, PFI sedang memperjuangkan karya foto para jurnalistik untuk dilakukan legalitas yang jelas. Sehingga, jika ada yang mengambil tanpa izin hal itu bisa dilakukan penegasan atau teguran.

“Kita saat ini sedang memperjuangkan suara teman-teman foto di Dewan Pers, semoga secepatnya bisa selesai, dan bisa melindungi hasil karya jurnalistik,” ucap pria yang sudah melanglang buana di dunia pewarta foto selama 10 tahun di Indonesia ini.

Dirinya pun sangat bangga dan mengapresiasi adanya pameran foto yang dilaksanakan oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bogor. Dirinya berharap, agenda rutin tahunan ini bisa terus berjalan dan lebih baik lagi.

“Syukur-syukur ini bisa rutin setiap tahun, karena setiap tahun beda peristiwa. Bukan hanya dari bencana alam saja, ada juga masalah pilpers dan pileg. Saya sangat mengapresiasi PFI Bogor ini,” tuturnya.

Ia menambahkan, di Indonesia sendiri PFI saat ini baru terbentuk di 19 kota, dan pada tahun 2020 akan bertambah tiga lagi yaitu Kota Jambi, Bangka Belitung dan Bali. “Tahun ini masih 19 daerah. Di tahun ini juga yang sedang membentuk yaitu di Jambi, Bangka Belitung, dan Bali, semoga bisa berjalan dengan lancar,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan