Bantuan Rumah Tidak Layak Huni Jangan Tunggu Ambruk Dulu

0 128

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bogor Fraksi PDI Perjuangan, Atty Somaddikarya angkat bicara perihal robohnya Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di wilayah Kampung Pulo Geulis RT 01/RW 04, Babakan Pasar, Bogor Tengah, Kota Bogor, Tjitjih Sukarsih (65) yang ambruk pada Selasa (28/1/20) dini hari kemarin.

Diketahui, Tjitjih sudah tiga kali mengajukan perbaikan rumah. Pengajuan pertama itu, empat tahun lalu sejak masih ada almarhum suaminya. Permohonan yang baru pun sudah diajukan sampai sudah ditempel stiker di depan rumahnya. Namun belum ada realisasi hingga atap rumahnya ambruk. Dari kejadian itu, sebanyak lima orang yang sedang tidur di di dalam rumah mengalami luka-luka karena tertimpa material atap yang ambruk.

Adanya kejadian itu, DPRD Kota Bogor memberi saran agar Pemkot Bogor menggunakan dana Biaya Tak Terduga (BTT) untuk memperbaiki RTLH yang sudah mengkhawatirkan dan aplikasi Sistem Administrasi Hibah Bansos Terintegrasi (Sahabat) yang dimiliki Pemkot Bogor harus lebih disempurnakan.

Atty mengatakan, setiap tahun Bantuan Sosial (Bansos) dan hibah di tingkatkan anggarannya, khususnya pengajuan-pengajuan yang bisa dirasakan masyarakat langsung.

“Pengajuan bansos khususnya pada RTLH. Sudah banyak rumah-rumah yang diajukan. Kebanyakan kategori RTLH itu sudah dalam kondisi mengkhawatirkan. Yang jadi prioritas bisa menggunakan BTT supaya cepat direhab. Ini kemarin diusulkan untuk menjaga tidak terjadi adanya korban di kemudian hari. Apa yang saya khawatirkan benar terjadi dan saya turut prihatin atas kejadian kemarin,” ungkap Atty, Rabu (28/1/20).

Atty melanjutkan, sering kali dirinya membagikan informasi pengajuan RTLH secara berantai kepada masyarakat, para ketua RT dan RW khususnya di wilayah Kecamatan Timur juga Kecamatan Tengah. Alhamdulilah informasi tersebut sampai dan dilaksanakan.

“Tapi ada saja keluhan kesulitan pengajuan RTLH harus melalui aplikasi Sahabat, di mana yang bisa mengajukan adalah nama yang sudah ada dalam aplikasi. Inilah salah satu kendalanya. Nah, bagi rumah yang benar butuh perhatian khusus atau untuk cepat dibantu kebetulan tidak terdaftar di aplikasi, ini menjadi kendala tersendiri,” ucapnya.

Masih kata Atty, informasinya rumah yang ambruk sudah terdaftar sebagai penerima manfaat tapi kenapa harus menunggu ambruk dahulu. Yang menjadi pertanyaan apa fungsi verifikasi atau survey. Kenapa harus menunggu waktu lama hingga ada korban luka-luka.

“Untuk pembuktian croscek pengajuan RTLH tahun berapa, akan terlihat jelas kapan diajukan, benar tidak itu ada?. Kalau sudah ambruk, baru bilang mau direhab, tapi keburu ambruk. Itu alasan klasik yang diulang-ulang setiap ada kejadian,” terang politisi PDI Perjuangan itu.

Atty membeberkan, fakta-fakta muncul dipermukaan dengan sendirinya, banyak penerima RTLH yang tidak tepat sasaran.
Kejadian hari ini juga menimbulkan pertanyaan, kenapa rakyat menerima anggaran Bansos atau hibah butuh waktu tahunan seperti untuk RTLH dengan nilai yang masih minim. Sementara untuk bansos dan hibah dengan judul lain bisa diterima puluhan dan ratusan juta. Ini jadi potret kemiskinan yang tidak terbantahkan, menjadi bukti tidak cermatnya anggaran yang pro rakyat.

“Masyarakat membutuhkan keseriusan pihak-pihak terkait untuk lebih peduli dan memperhatikan kebutuhan masyarakat salah satunya pada RTLH. Rumahnya ambruk karena minimnya penghasilan keluarga. Jadi, penghasilannya hanya untuk isi perut. Janga pernah jumawa dengan mengaku berhasil dan sukses, sebagai pengakuan secara sepihak. Jangan bicara diluar fakta, jika kenyataannya hati rakyat terluka dan menangis,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan