Danone Indonesia Adakan Bidik Nutrisi, Cegah Stunting Sejak Dini

0 164

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Anak-anak di Indonesia, tidak terkecuali di kota maupun di pelosok, masih menghadapi berbagai tantangan kesehatan yang dapat berpengaruh besar terhadap kehidupannya di masa depan. Sebut saja masalah kesehatan seperti gizi kurang, gizi buruk, kekurangan mikronutrien, obesitas, hingga kondisi stunting.

Dalam upaya memperluas pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk mencegah terjadinya stunting, Danone Indonesia menyelenggarakan program Bidik Nutrisi. Di tahun pertama, Bidik Nutrisi diawali dengan kegiatan Workshop Fotografi “Lensa Bercerita: Raih Masa Depan Tanpa Stunting” bagi pewarta foto di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Anak dengan kondisi stunting beresiko lebih tinggi memiliki penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes, dan lainnya di masa depan. Selain itu, menurut Bappenas, anak dengan kondisi stunting diprediksi akan berpenghasilan 20% lebih rendah dari anak yang tumbuh optimal. Kondisi ini diperkirakan akan berpotensi menimbulkan kerugian negara hingga 2-3% dari APBN atau setara dengan sekitar 400 Trilyun Rupiah.

Dampak permanen dari kondisi stunting dapat menghambat visi pemerintah Indonesia dalam memajukan kualitas sumber daya manusia. Maka dari itu, dibutuhkan terobosan pencegahan stunting melalui kerjasama lintas sektor sebagai upaya efektif untuk menurunkan angka prevalensi stunting di Indonesia.

Corporate Communication Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin mengungkapkan, untuk dapat berkontribusi positif pada kesehatan ibu dan anak adalah tujuan dari bisnis ini.  Danone ingin terus dapat membawa kesehatan melalui makanan dan minuman ke sebanyak mungkin masyarakat di dunia, termasuk di Indonesia.

“Untuk mewujudkan misi tersebut kami rutin mengadakan beragam penelitian ilmiah, inovasi produk, program berkelanjutan, hingga kegiatan edukasi ke berbagai pihak. Hari ini, kami memulai kegiatan Workshop dan Kompetisi Foto “Bidik Nutrisi” guna meningkatkan pengetahuan pewarta foto baik tentang kondisi stunting itu sendiri maupun tentang teknis fotografi dan storytelling terkait human interest agar memperkuat penyampaian informasi para pewarta foto tentang isu ini ke masyarakat,” terangnya.

Bidik Nutrisi, sambungnya, merupakan sarana edukasi kepada pewarta foto yang berfokus kepada penguatan kapasitas jurnalis foto terutama terkait isu nutrisi seperti pencegahan stunting. Pada awal pelaksanaannya, Bidik Nutrisi akan diselenggarakan di Jawa Barat dan Jawa Timur sepanjang bulan Desember 2019 hingga Januari 2020 bagi para pewarta foto dan pewarta foto lepas. Kegiatan ini akan ditutup dengan kompetisi foto yang terbagi atas kategori jurnalistik dan sosial media.

Praktisi Kesehatan dan Gizi, Dr. Akim Dharmawan dalam pemaparannya di Workshop Bidik Nutrisi menjelaskan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban ganda permasalahan gizi yaitu undernutrition dan overweight, di mana data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi stunting Indonesia mencapai 30,8%.

Di Bogor sendiri, 1 dari 3 anak baduta dan balita mengalami stunting, 12,6% balita di Kabupaten Bogor menderita gizi buruk dan kurang, serta 5,8% balita di Kabupaten Bogor kurus. Penurunan stunting memerlukan implementasi intervensi lintas sektor, yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif secara terintegrasi di tingkat pusat dan daerah.

Dalam upaya pencegahan stunting, dibutuhkan perubahan perilaku berkelanjutan terkait intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif mulai dari individu, kelompok, hingga masyarakat luas. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kesadaran berbagai lapisan masyarakat dan pemangku kepentingan mengenai hal-hal yang dapat berpengaruh pada kondisi stunting, mulai dari pentingnya nutrisi pada periode emas 1000 Hari Pertama Kehidupan (termasuk masa kehamilan), pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat, kondisi ketersediaan pangan sehat di sekolah, pangan yang disajikan di rumah setiap hari, dan berbagai kesempatan lainnya.

Intervensi gizi spesifik meliputi asupan gizi, tata laksana, pemeriksaan rutin, dan lainnya. Sedangkan intervensi gizi sensitif terdiri dari penyediaan air bersih dan sanitasi, lingkungan, pendidikan, dan lainnya.

“Untuk mewujudkan pillar ke-2 dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting yaitu kampanye nasional dan komunikasi perubahan perilaku, media memiliki peran yang sangat besar untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran kepada masyarakat. Hal ini dapat disampaikan melalui artikel, audiovisual, maupun foto,” jelas Dr. Akim.

Di kesempatan yang sama, Bidik Nutrisi juga mendatangkan jurnalis foto senior yang melengkapi pembekalan peserta terkait pencegahan stunting bagi masyarakat melalui foto tunggal bertema human interest. Jurnalis Foto Senior, Arbain Rambey mengatakan dalam keseharian seorang pewarta foto, dibutuhkan tidak hanya skill sebagai seorang fotografer, tetapi juga kemampuan untuk mengambil momen yang bisa bercerita.

Foto yang baik harus bagus (sesuai dengan tema), indah (memiliki komposisi yang baik), dan menarik (mampu bercerita). Beberapa tips dalam memotret human interest photo adalah harus memahami pokok-pokok masalahnya, lalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan bahasa visualnya.

“Danone Indonesia secara aktif mengadakan berbagai acara edukasi bagi bloggers, vloggers, jurnalis, hingga fotojurnalis, yang dapat memperluas informasi ke masyarakat maupun pemangku kepentingan. Kami berharap dalam tahun pertamanya, Bidik Nutrisi dapat berkontribusi pada peningkatan kesadaran masyarakat mengenai tindakan pencegahan stunting,” tutup Arbain.

Tinggalkan Balasan