Reformasi Koperasi Harus Tingkatkan Kualitas Bukan Kuantitas, Jangan Sampai Jalan di Tempat

0 27

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Adanya reformasi koperasi yang dilakukan oleh Kementerian Koperasi dan UKM, menuntut koperasi-koperasi yang ada di seluruh Indonesia harus berorientasi pada kualitas bukan pada jumlah. Dari hal itulah, koperasi-koperasi yang tidak bisa diharapkan kelangsungan usahanya akan dibubarkan oleh pemerintah.

Hal tersebut diingatkan oleh Asisten Deputi Tatalaksana Koperasi dan UKM, M Hanafiah, saat meresmikan kantor pelayanan koperasi jasa Artha Mandiri Abadi (AMA) Indonesia di Jalan K.H. Soleh Iskandar  (Sholis) No. 30 Kedung Jaya, Tanah Sareal, Kota Bogor, Kamis (7/11/19).

Hanafiah juga mengingatkan agar dalam menjalankan koperasi harus sesuai dengan prinsip dan UU yang berlaku yakni koperasi yang mau berjuang untuk kepentingan anggota dan mengikuti rule model dengan tata kelola yang benar sesuai dengan modernisasi managemen koperasi.

Ia mengatakan, selama dua tahun terakhir ini, koperasi di seluruh Indonesia mengalami peningkatan. Secara nasional jumlah koperasi yang aktif dan dinamis ada sebanyak 121 ribu atau sekitar 54 persen. Sisanya banyak yang jalan di tempat.

“Banyak koperasi tidak kuat menghadapi dinamika bisnis di masyarakat. Karena mindset mereka selama ini, menunggu dan menanti. Nah, itu yang harus diubah menjadi mencari dan berjuang. Kemudian pembagian benefit yang diperoleh koperasi harus adil bersama anggota. Itu prinsip dasar kepentingan dan tujuan yang harus dipegang. Ketika itu belum mampu dilakukan oleh koperasi maka kontribusi dan partisipasi anggota terhadap koperasi akan melemah. Itulah kenapa sebagian koperasi jadi jalan di tempat,” ucapnya.

Sementara, Ketua pengurus Koperasi Jasa AMA Indonesia, MJ Haris, menyampaikan, AMA ini adalah koperasi jasa berbasis teknologi untuk mengikuti rencana pemerintah dalam meningkatkan usaha berbasis teknologi era.40. AMA sudah berjalan sejak tahun 2014. Namun setelah mendapat izin nasional di 2018 berubah menjadi AMA Indonesia.

Saat ini, AMA Indonesia telah memiliki 10 cabang di antaranya di Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Semarang, Surabaya, Kediri, dengan jumlah anggota di seluruh cabang Indonesia hampir sekitar dua ribu orang yang mayoritasnya adalah UMKM. “Di koperasi ini, ada beberapa PT yang membawahi usaha seperti yang berbasis kesehatan, pendidikan dan kuliner. Ke depan kami juga akan bisnis property,” jelas Haris.

Saat ditanyakan mengapa memilih koperasi jasa? Lanjut Haris, karena sebagian masyarakat berpikiran bahwa koperasi identik dengan simpan pinjam. Padahal koperasi tidak cuma itu. “Banyak potensi yang bisa digarap selain cuma simpan pinjam. Mindset inilah yang ingin kami ubah di mana memiliki target ke depan usaha-usaha yang ada di bawah koperasi AMA Indonesia menjadi IPO dan lebih mendunia,” terangnya.

Ditambahkan oleh Kadiskop UKM Kota Bogor, Anas S Rasmana, jumlah koperasi di Kota Bogor saat ini ada sekitar 848 dengan jumlah koperasi aktip sekitar 580. Menurutnya, koperasi jasa AMA Indonesia memiliki likuiditas yang cukup baik. Melihat koperasi ini telah berjalan selama 5 tahun.

“Bagusnya mereka melibatkan UKM Kota Bogor. Jadi, ini cakupanya bukan hanya ke ekonominya tapi menyeimbangkan dengan kultur dan sisi kebutuhan hidup yang lain. Pesan saya jangan sampai kekurangan likuiditas. Karena problem yang dialami bidang finasial itu biasanya terlalu berekspansi sehingga di waktu tertentu mereka kehilangan likuiditas,” kata Anas.

Tinggalkan Balasan