FORMASSI IPB Bedah Peluang dan Ancaman Revolusi 4.0 Bentuk SDM Unggul, Kreatif dan Inovatif

0 34

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Forum Mahasiswa Komunikasi Pertanian dan Perdesaan IPB University (FORMASSI – IPB) menyikapi revolusi industri 4.0 dengan menggelar Diskusi Interaktif dengan mengusung Tema Revolusi Industri 4.0 Peluang dan Tantangan. Diskusi yang dipandu oleh Moderator Irfan Awaludin ini digelar di Kafe Botani Kopi Nusantara pada Rabu (30/10/19) ini menghadirkan tiga orang pembicara yakni, Dosen FEMA IPB Dr. Nurmala K. Pandjaitan,  Direktur Peningkatan Sarpras PDT Agus Kuncoro, dan Ketua Forum Komunikasi Pembangunan Indonesia Dr. David Rizar Nugroho.

Ketua FORMASSI Mohamad Baidowi menjelaskan bahwa kegiatan diskusi interaktif ini bertujuan untuk membedah peluang dan ancaman pada era Revolusi Industri 4.0 dalam pembangunan SDM dan Sosial di Indonesia dari perspektif akademis, birokrat dan organisasi masyarakat. “Sebagai ajang pengayaan pengetahuan era revolusi industri 4.0 kepada peserta dan masyarakat. Kemudian, hasil kajian ini dapat digunakan sebagai kontribusi pemikiran bagi akademisi, birokrasi dan organisasi serta masyarakat umum,” kata Baidowi.

Baidowi menambahkan, bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ajang memupuk kekeluargaan, terbentuknya budaya diskusi dan mengaplikasikan tridharma perguruan tinggi. “Hasil kajian ini dapat menjadi rekomendasi pemikiran bagi setiap agen pembangunan dan masyarakat umum dalam membentuk SDM unggul di Indonesia,” tambahnya.

Ketua Pelaksana Diskusi Interaktif FORMASSI, Taufik Triadi menjelaskan, bahwa perubahan sistem berbasis teknologi informasi menjadi sebuah fenomena yang masih hangat diperbincangkan dari kalangan pemerintah akedemisi maupun masyarakat.

“Saya melihat era 4.0 bagai 2 mata koin, sehingga saya berharap dengan adanya diskusi kita dapat menganalisis sebuah peluang dan tantangan pada era 4.0 untuk membangun paradigma berpikir yang kreatif dan inovatif untuk menciptakan sdm yang unggul dan mampu bersaing bersaing pada era 4.0,” kata Taufik.

Dr. Nurmala sebagai akademisi menjelaskan bahwa inovasi revolusi industri 4.0 membuat manusia lebih cepat, dan manusia harus siap. Sumber daya manusia adalah elemen penting di era ekonomi digital.

“Perkembangan teknologi mengharuskan kita mempersiapkan diri untuk menjadi individu yang andal, meningkatkan literasi digital, tahan banting, adaptif dan kolaboratif. Era ini menjadikan kita harus kolaborasi dan tidak sendiri. Selain itu Indonesia juga perlu ada pendidikan karakter dan perilaku ramah lingkungan,” kata Nurmala.

Sementara, Agus Kuncoro sebagai birokrat dari Kementerian Desa Tertinggal menjelaskan bahwa meski saat ini sudah memasuki era 4.0, namun beberapa daerah masih 3.0 bahkan 2.0. Agus juga menjelaskan bahwa ada 10 strategi prioritas nasional untuk making Indonesia 4.0.

“Model pembangunan daerah tertinggal saat ini adalah kerja sama dengan 50 startup. Mengenai jaringan internet, kita lakukan koordinasi dengan Bakti Kominfo. Lalu kami bekerja sama dengan Device Halohola agar guru dapat mengajar di beberapa sekolah di daerah-daerah tertinggal. Dan kami juga lakukan e-ticketing untuk Pariwisata Daerah Tertinggal,” kata Agus.

Kemudian, Dr. David Rizar sebagai aktivis organisasi masyarakat komunikasi pembangunan menjelaskan bahwa ancaman kemajuan teknologi informasi dan komunikasi adalah banyaknya situs dan sosial media sebagai penyebar informasi palsu.

“Apakah sudah ada pendidikan literasi digital yang baik sehingga masyarakat dapat memanfaatkan digital dengan baik. Kami berharap dengan banyaknya kasus ini kami, FORKAPI dapat mendiskusikan kecakakan literasi digital. Dan apakah ada model yang bisa kita bangun untuk mengatasi masalah ini,” kata David.

Sebagai informasi FORMASSI IPB University, merupakan Organisasi mahasiswa dalam prodi Komunikasi Pembangunan, Fakultas Ekologi Manusia IPB yang berdiri pada 12 Desember 2018.

Selanjutnya FORMASSI IPB University akan mengadakan Diskusi kembali mengenai fenomena terkini yang berdampak luas terhadap masyarakat, serta melakukan musyawarah besar untuk menentukan pimpinan dan kepengurusan baru sebagai regenerasi organisasi, agar arah perjuangan organisasi dapat terus disemestakan secara turun temurun oleh angkatan selanjutnya. (**)

Tinggalkan Balasan