Pinkers Bondes, Anak Punk Pintu Kereta Kebon Pedes Ikut Hijrah Ubah Citra Negatif ke Arah Lebih Baik

0 48

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Selain anak-anak Punkcasan yang mencoba hijrah untuk mengubah citra negatif mereka di tengah masyarakat, kini ada juga anak-anak Punk pintu kereta (Pinker) Kebon Pedes (Bondes) yang mulai mengikuti jejak mereka.

Ditemui di sebuah balai kecil tempat warga biasa bermain tenis meja tepatnya warga di samping palang pintu kereta api Kebon Pedes, sejumlah anak punk dan pengamen jalanan terlihat serius mengikuti pengajian yang rutin dilangsungkan setiap Rabu siang selepas zuhur. Di sana mereka belajar membaca Alquran dan mendalami ajaran Islam.

Dikatakan oleh Ustaz Jarkasih selaku pengajar dan pembina Punk Pinker Bondes, pengajian ini, baru berjalan satu bulan yang rutin dilaksanakan seminggu sekali setiap rabu siang yang sebelumnya diawali dengan salat zuhur berjamaah. Ilmu yang diberikan yakni tentang bagaimana membaca Alquran, pembiasaan salat, serta disisipi kajian-kajian yang bermuatan fiqih.

“Tempatnya gratis. Kami diizinkan warga memakai tempat ini siang. Kalau sore biasanya dipakai warga main tenis meja,” katanya, Rabu (24/10/19).

Adapun kendala yang ditemui, sambungnya, pertama, waktu. Mereka ini kan menggantungkan kehidupannya di jalanan. Jadi, waktunya terserah mereka yang menentukan. Kedua, kesadaran untuk mengikuti kegiatan ini yang masih belum sepenuhnya. “Kami sebagai pengajar yang mengikuti waktu mereka,” ungkapnya.

Ia menuturkan, alasan dirinya merangkul anak-anak Punk dan pengamen jalanan ini, karena ia bersama beberapa kawannya ingin mengisi ruang-ruang kosong yang belum diisi oleh para dai lain. Menurutnya, kebanyakan dai-dai mengisi dakwahnya di tempat-tempat yang sudah umum seperti masjid, maupun majelis.

“Kalau kami ingin berperan serta di bagian lain yaitu kepada saudara-saudara kita di jalanan seperti pengamen, anak Punk, atau kalangan marjinal lainnya. Kami melihat belum ada yang mengisi ruang ini untuk berdakwah. Kami berprinsip dakwah itu harus menyeluruh baik kepada orang-orang umum maupun kepada orang yang dianggap minoritas,” ucapnya.

Awal mengajak anak-anak punk ini untuk hijrah dilakukan lewat cara pendekatan, komunikasi, untuk membangun kepercayaan sehingga karakter dan kultur dasar mereka seperti apa bisa diketahui.

“Yang kita bangun itu, awalnya komunikasi dan kepercayaan dulu. Dan ternyata mereka pun sebenarnya sedang menunggu orang-orang yang mengajak kepada hal-hal yang lebih baik. Karena itu, slogan kita Punkgil Aku Saudaramu (PAS) artinya mereka juga memiliki keinginan untuk melakukan kebaikan dan mempunyai hak mendapat pembelajaran agama,” ujarnya.

Ia menambahkan, dirinya juga telah membuka pengajian di Sukabumi. Ada sekitar 50 anak Punk dan pengamen yang sudah dibuatkan agenda pengajian. Targetnya utamanya mereka bisa membaca Alquran. Ini salah satu kegiatan sosial keagamaan di mana peran negara atau pemerintah belum ada yang memperhatikan secara khusus kepada komunitas anak-anak Punk dan pengamen jalanan ini.

“Jadi, kami berinisiatif mengambil peran itu. Mudah-mudahan dengan adanya pengajian ini, stigma negatif yang disematkan kepada mereka bisa berubah. Dari opini buruk ke opini baik. Dari kelakuan yang kurang baik menjadi baik. Intinya sesederhana itu. Kami ingin memberikan opini yang baik terhadap mereka bahwa mereka adalah bagian dari anak negeri yang berhak mendapatkan hak yang sama terutama pendidikan agama,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan