Pemanfaatan Olahan Sampah Bisa Jadi Solusi Kurangi Produksi Sampah

0 95

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Kepala B2TKE Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr. Mohammad Mustafa Sarinanto mengatakan, pemanfaatan sampah yang diolah jadi energi baru dan terbarukan (EBT) dinilai bisa menjadi solusi atas berbagai persoalan sampah yang ada saat ini. Selain menyelesaikan sampah, energi yang dihasilkan juga bisa dimanfaatkan dan bermanfaat.

Menurut Mustafa Sarinanto, persoalan sampah telah menjadi masalah bagi seluruh daerah di Indonesia, karena produksi sampah setiap harinya bertambah. “Hampir seluruh daerah menghadapi persoalan yang sama terhadap sampah,” katanya dalam acara workshop menelaah arti penting energi terbarukan di Indonesia yang diselenggarakan NGO ASG’s East Asia and Pacific di hotel Salak, Kota Bogor, Rabu (19/6/19).

Mustafa Sarinanto menuturkan, pemerintah daerah menghadapi kendala tentang pembuangan sampah. Dengan perkembangan daerah, maka produksi sampah setiap harinya bertambah. Sementara pembuangan sampah menjadi kendala yang dihadapi. “Selama ini, isu aktual yang muncul adalah tempat pembuangan sampah yang sulit. Kalaupun ada daya tampungnya, juga tetap menjadi persoalan,” terangnya.

Menyikapi persoalan tersebut, lanjutnya, mengolah sampah menjadi energi baru terbarukan dinilai merupakan solusi yang tepat saat ini. Sebab, sampah ternyata bisa diolah dan menghasilkan energi seperti listrik. Saat ini, BPPT sedang membuat pilot project di TPA Bantar gebang Bekasi untuk sampah diolah menjadi energi listrik. “Pilot project nya sedang berjalan dan diharapkan tahun ini sudah bisa beroperasi,” ujar Mustafa.

Adapun di Bantar Gebang kerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta dari 8.000 ton sampah per hari, baru 100 ton yang dijadikan pilot project. Direncanakan pengolahan sampah tersebut bisa menghasilkan energi listrik. Menurut dia, dengan pilot project ini nanti bisa menjadi contoh bagi daerah lain dalam menyelesaikan persoalan sampah.
Lebih lanjut Mustafa menuturkan, pilot project BPPT diharapkan nanti bisa jadi contoh bagi pemerintah daerah dalam mengatasi masalah sampah. Selama ini, kecenderungan jika sudah terbukti bahwa sampah bisa diolah jadi energi seperti energi listrik maka hal itu akan ditiru.

“Teknologi pengolahan sampah untuk diolah menjadi energi baru terbarukan cukup banyak dan banyak pilihan. Sehingga nanti bisa jadi pilihan bagi daerah jika ingin olah sampah jadi energi,” jelasnya.
Senior Advisor ASG’s East Asia and Pacific Ratih Hardjono mengatakan, mengembangkan energi terbarukan di Indonesia sungguh menjadi penting dan relevan mengingat energi fosil yang selama ini digunakan akan habis.

Dijelaskannya, kebutuhan Indonesia terhadap energi fosil saat ini cukup tinggi mencapai 94 persen. Sedangkan energi terbarukan baru 6,51 persen. Padahal pemerintah Indonesia sendiri menargetkan 23 persen penggunaan bauran energi terbarukan di tahun 2025. Menurut Ratih Hardjono, potensi energi terbarukan di Indonesia jelas sangat besar dengan menghasilkan 716, GW yakni dari energi solar photoboltaic (solar PV), hydropower, bioenergi, geotermal, tenaga gelombang laut dan angin.

Namun sampai saat ini, porsi bauran energi fosil masih dominan terbukti dengan konsumsi yang sangat tinggi. Malahan sejak tahun 2017 sampai 2025 penyediaan Bahan Bakar Minyak misalnya sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri. Jawa Barat sendiri termasuk produksi dan pemakai energi fosil yang cukup besar seperti batubara.

Dikatakan Tommy Aprinado dari periset Dampak Industri Ekstraktif bagi Lingkungan, saat ini, ada sejumlah Pembangkit listrik Tenaga Uap (PLTU) di Jawa Barat. PLTU di Jawa Barat yakni di Cirebon, Indramayu dan Pelabuhan Ratu, Kab Sukabumi. Keberadaan PLTU tersebut selama ini sering menjadi konflik bagi masyarakat setempat baik bagi nelayan dan petani. Selain itu, PLTU juga menyebabkan terjadinya polusi udara dan air laut. “Energi fosil di Jawa Barat cukup besar,” ujar Tommy Aprinado.

Tinggalkan Balasan