Siapa Presiden Pilihan Orang Bogor?

0 186

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Kalau menurut Wangsit Siliwangi, di baris-baris terakhirnya ia mengatakan, ”Orang Sunda (Bogor) akan memaafkan”. Entah memberi maaf kepada siapa, tetapi suatu hari itu akan terjadi, katanya.

Walaupun ramalan raja kita itu terbukti, seperti datangnya koloni Belanda yang ia sebut sebagai ”kebo bule”, Presiden RI pertama yang ia sebut berdarah bangsawan Bali (Bung Karno), dan diteruskan oleh beberapa presiden yang bukan anak sini (Pajajaran), kita tidak pernah mendapat petunjuk tentang siapa yang mau kita maafkan dan dosa apa pemimpin-pemimpin kita terhadap orang Bogor.

Maksud saya, dosa yang mana? Kan, banyak juga selain tentu prestasinya. Misalnya, banyak orang Bogor yang tidak mampu sekolah, jadi pengangguran, membiarkan korupsi merajalela dan sebagainya.

Namun, menjelang Pilpres ini, kita orang Bogor sering-sering nonton tv dan kita atau saya sudah tahu, tidak akan ada Capres yang isi pidatonya mengatakan akan membenahi kemacetan di Bogor, membereskan PKL, apalagi mengendalikan angkot.

Ya, karena tentu saja tidak pada levelnya. Yang akan mereka pidatokan adalah masalah nasionalisasi aset, revolusi mental, harga diri bangsa, dan sebagainya.

Karena, pidato yang menyebut-nyebut angkot Bogor, PKL, dan seterusnya itu, ya, hanya akan muncul dari mulut Wali Kota. Wali Kota Bogor tepatnya.

Lalu, pentingkah sebetulnya Pemilihan Presiden bagi orang Bogor? Kalau ya, orang Bogor akan cenderung memilih siapa di antara dua pasangan, Jokowi-JK dan Prabowo Hatta?

Pragmatisnya Orang Bogor

Berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia, Jawa Barat (khususnya Bogor) tidak memiliki masa yang fanatik terhadap golongan-golongan tertentu seperti halnya orang Jawa Tengah terhadap PDIP atau Jawa Timur terhadap Nahdlatul Ulama (NU).

Kita orang Bogor tidak punya grup boy band yang dijadikan panutan. NU di sini, ya, biasa-biasa saja, dibilang nasionalis juga kita nggak begitu fanatik sama yang berbau-bau Soekarno, misalnya loyal terhadap PDIP, apalagi loyal terhadap Muhammadiyah misalnya.

Di Pilpres 2009, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat bahwa pasangan No. 2 SBY-Boediono menang di Kota Bogor dengan perolehan suara 76,4 % atau 377.465 suara. Adapun perolehan dari pasangan lainnya, yaitu Mega Pro 15,4 % dan JK-Win 8,2 %.

Mengapa SBY menang? Bahkan, sama dengan tahun 2004, di Kota Bogor SBY juga yang menang saat itu. Jawabannya mungkin adalah karena saat itu euforianya merujuk ke sana.

Bisa jadi begitu. Karena, pada Pemilu 1999, orang Bogor ramai-ramai memilih PDIP karena berharap Megawati yang akan jadi presiden walaupun pada kenyataannya parlemen memilih Gus Dur.

Orang Bogor sih, asyik saja karena memang demikianlah hasilnya. Tidak ada kerusuhan atau orang ramai-ramai mencaci maki DPR yang kongkalikong buat menggusur Megawati. Di sini kalau kata orang seberang, ya, fine-fine saja.

Beberapa bulan setelah masing-masing Presiden itu terpilih sesuai masanya, kita orang Bogor berangkat kerja bertemu lagi dengan macet, angkot ngetem, menggerutu sama PKL yang cuek saja pasang terpal kumuh dan memakan hak kita pejalan kaki, dan masalah-masalah klasik khas Bogor lainnya.

Kita orang Bogor mungkin berjodoh dengan masalah-masalah yang sama sehingga saat Pilpres, kita pilih saja yang paling ramai dielu-elukan, toh siapa pun presidennya, angkot dan PKL bukan masalah mereka, tetapi urusannya Wali Kota.

Balik lagi ke wangsit Siliwangi, di bait-bait terakhirnya ia mengatakan bahwa akan datang seorang Ratu Adil setelah Gunung Gede dan tujuh gunung lainnya meletus. Orang yang disebut sebagai Ratu Adil itulah yang akan membawa bangsa ini pada kejayaan.

Namun, yang paling mengejutkan adalah, ia mengatakan si ”bocah gembala”. Yang dimaksud itu adalah orang sini, anak Pakuan Pajajaran alias Bogor!

Kalau sudah begitu, kita sesama orang Bogor masing-masing berpikir, apakah yang dimaksud sebagai si Ratu Adil adalah salah satu dari kita atau mungkin saya? Tetapi, rasa-rasanya sih bukan, karena untuk masalah yang skalanya lebih kecil, seperti angkot dan PKL saja saya sudah keder duluan, apalagi nasionalisasi aset. Nyerah deh…

Dudi Irawan Sukendar

Tinggalkan Balasan