Waspada DBD pada Anak dan Kenali Penyebabnya

0 205

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Demam Berdarah Dengue (DBD) pada anak khususnya disebabkan oleh virus dengue. Virus ini ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang menggigit satu pasien ke pasien lain. Masa inkubasi DBD ini adalah sekitar 4-6 hari pada saat mulai digigit sampai terjadi gejala klinis. Gejala klinisnya adalah demam tinggi mendadak, tanpa disertai gejala batuk dan pilek kemudian bisa disertai mual, dan muntah.

Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Azra Jalan Raya Pajajaran No.219, Bogor Utara, Kota Bogor dr. Agus Darajat, Sp.A M.Kes menjelaskan bahwa untuk mengetahui diagnosis DBD pada anak berdasarkan gejala klinis tersebut, pada umumnya disertai dengan pemeriksaan laboratorium setelah hari ketiga demam. Pemeriksaan laboratorium tersebut terdiri dari pemeriksaan darah rutin, hemoglobin, trombosit, leukosit dan hematokrit. “Kemudian dapat dinyatakan DBD apabila gejala klinis ditambah dengan pemeriksaan laboratorium yang berupa trombosit menurun di bawah seratus ribu,” ujar dokter Agus, Minggu (14/04/19).

DBD bisa memiliki gejala ringan dan berat. Pada DBD dengan gejala berat umumnya yaitu demam tinggi mendadak, anak menggigil kemudian trombositnya sudah sangat menurun di bawah seratus ribu serta anak tidak mau makan dan minum. “Pasien sebaiknya dibawa ke dokter untuk segera diperiksa, dan bila trombosit di bawah seratus ribu, maka dianjurkan untuk rawat inap,” ucapnya.

Dia menambahkan, penanganan DBD yang utama adalah diagnosis yang tepat dan penanganan lebih awal. Hal ini sangat mungkin tertolong. Berdasarkan derajat penyakit DBD memang ada yang dinamakan demam dengue dan demam berdarah. Demam dengue secara klinis dan laboratoris pasien tidak mengalami pembesaran plasma. Pembesaran plasma artinya peningkatan hematokrit secara klinis ditandai dengan syok, yaitu tangan dan kaki dingin kemudian urine sedikit, kulitnya lembab itu adalah tanda syok pada DBD. Pada saat itulah masa kritis yang biasanya terjadi pada hari ke 5 dan ke 6.

“Bila terjadi DBD, hari ke 5 adalah fase kritis bisa terjadi syok, jadi di sinilah hati-hati. Namun bila hanya derajat ringan seperti demam dengue maka hari ke 5 adalah hari penyembuhan,” terang Dokter Agus. Biasanya nyamuk Aedes aegypti akan berterbangan di sekitar perumahan atau sekolah pada pagi hari atau dari musim penghujan ke musim kemarau. Pada saat itu bisanya terjadi penularan antara pasien satu ke pasien lain. Untuk itu cegah demam berdarah dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar kita.

Dokter Agus juga menjelaskan Virus dengue menginfeksi nyamuk Aedes aegypti terdapat beberapa gejala awal penyakit DBD ini, sambungnya, antara lain demam tinggi secara mendadak berlangsung sepanjang hari, nyeri kepala, nyeri saat menggerakkan bola mata, dan nyeri punggung.

Terkadang disertai tanda-tanda perdarahan, pada kasus yang lebih berat dapat menimbulkan nyeri ulu hati, perdarahan saluran cerna, shock, hingga kematian.

DBD menyerang pembuluh darah, menyebabkan indikator trombosit turun drastis. Kasus meninggalnya seseorang karena mengalami shock pembuluh darah.

Dokter Agus mengungkapkan, penting untuk memutuskan rantai penularan nyamuk ini. Pencegahan pun harus dilakukan dari lingkungan keluarga terlebih efektif. Oleh karena itu, lanjutnya, penting bagi masyarakat untuk melakukan berbagai upaya pencegahan yang dianjurkan, dengan menggalakkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus yakni Menguras tempat penampungan air, Menutup tempat penampungan air, Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular demam berdarah.

(rhm)

Tinggalkan Balasan