Benda Cagar Budaya Semakin Tergerus dan Minim Perhatian

0 376

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Bicara tentang Bogor tak hanya soal hujan, angkot dan kemacetan di mana-mana. Ada kisah sejarah dan budaya yang menjadi ciri khas leluhur bagi kota yang zaman dahulu dikenal dengan nama Buitenzorg atau sebagai tempat istirahat. Tak hanya bangunan kuno, prasejarah menorehkan peninggalan zaman Kerajaan Pajajaran Siliwangi. Kota yang kini bertransformasi sebagai kota ramah keluarga, kota pelari dan kota sejuta taman itu masih meninggalkan banyak pekerjaan rumah yang harus diperhatikan.

Jauh dari hiruk pikuk sibuknya kota ini memang memiliki kisah yang tak ada habisnya yakni situs cagar budaya dan peninggalan purbakala yang sarat dengan seni budaya dan sejarah di masanya. Sejumlah peninggalan sejarah di Kota Bogor dalam kondisi tidak terawat dan tidak sedikit yang mengalami kerusakan hingga perubahan dari bentuk aslinya.

Kota Bogor sendiri memiliki banyak benda peninggalan sejarah. Mulai dari gedung peninggalan sejarah masa kolonial Belanda ataupun sejarah peninggalan zaman kerajaan.

Kondisi ini menghadirkan keprihatinan di kalangan tokoh budaya di Kota Bogor melihat perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dinilai masih minim terhadap keberadaan benda cagar budaya (BCB).

Padahal bila keberadaan benda cagar budaya ini diperhatikan dengan serius bisa menjadi obyek wisata yang bisa menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Budayawan Bogor Eman Sulaeman mengatakan, banyak benda cagar budaya di Kota Bogor yang berada di tanah yang bukan milik pemkot. Akibatnya, perawatan pun tidak bisa dilakukan secara optimal. Salah satunya bunker-bunker peninggalan Belanda yang ditemukan kemungkinan dibangun untuk mempertahankan pasukan militer milik Belanda.

Kondisi tersebut sekarang menjadi Markas Komando (Mako) Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) di kawasan Lawang Gintung, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Bunker-bunker tersebut dibangun antara tahun 1939 hingga tahun 1941.

Semua bunker tersebut, terletak di lokasi yang strategis untuk mengamati jalur kereta api, dan dilengkapi lubang-lubang untuk senapan laras panjang.

Bunker-bunker yang ditemukan di lahan milik Gumati Cafe (dua bunker), Bank Mandiri (dua bunker relatif utuh), lahan PT KA di belakang Istana Batu Tulis (dua bunker agak rusak), serta di lahan seorang warga (satu bunker sangat rusak).

Eman mengatakan, temuan benda-benda bersejarah tersebut menunjukkan kesinambungan sejarah dan budaya Bogor dari mulai masa prasejarah hingga zaman Kerajaan Pajajaran dan masa kolonial.

Menurut dia, Bogor mempunyai arti penting dari sisi ideologi dan budaya. Bangunan berarsitektur kolonial banyak ditemukan di Bogor, ada sekitar 500-an, karena dulu banyak orang Belanda yang tinggal di Bogor dan juga adanya Istana Bogor yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron Van Imhoff.

Keberadaan Bunker Belanda di Lawang Gintung, Bogor Selatan, Kota Bogor tak hanya berkisah tentang sejarah zaman penjajahan Belanda tetapi juga memiliki unsur cerita mistis di dalamnya.

Apalagi lokasi bunker dekat dengan wilayah-wilayah bersejarah lainnya seperti makam Mbah Dalem dan Istana Batutulis. Bunker Belanda yang berada di Lawang Gintung mempunyai cerita mistis tersendiri.

Namun, yang memiliki cerita mistis lumayan terjadi di Bunker Belanda yang berada di Gumati dan di bawah Istana Batutulis. Keangkeran beberapa wilayah di Lawang Gintung karena wilayah tersebut merupakan kawasan bersejarah di antaranya lokasi pintu belakang Kerajaan Pajajaran hingga kependudukan Belanda di masa kolonial.

Menurut cerita, banyak harta terpendam seperti emas dan peninggalan benda-benda kuno lainnya yang bernilai tinggi dan terkubur di Bukit Lawang Gintung dan sekitarnya. Namun harta tersebut ada yang bisa dilihat oleh kasat mata dan banyak yang terlihat dengan mata batin.

Menurut cerita warga, suatu hari ada orang yang meminta harta yang terpendam dekat dengan lokasi Bunker Belanda di belakang Istana Batutulis.

Setelah dimediasi sang penunggu yang mengaku arwah orang Belanda meminta korban nyawa belasan orang dan darah manusia sebanyak 15 liter. Arwah tentara Belanda tersebut juga tidak mau apabila nyawa manusia ditukar dengan dua ekor kerbau dan 10 kambing.

Hal yang mistis juga terjadi di Bunker Belanda yang berada di Gumati, 3 orang tewas dalam proses pembangunan Gumati Batu Tulis. Lokasi Bunker Gumati Batutulis dulunya merupakan rumah dari kediaman Gubernur Irian Jaya (Papua) sebelum menjadi seperti saat ini. 1 bunker di sana hancur namun 1 bunker lagi tidak bisa dihancurkan karena ada ‘penunggunya’.

Selain itu, pada waktu proses penggalian pondasi satu kuli bangunan asal Cilacap menemukan emas batangan dengan berat 500 hingga 1000 gram di dekat bunker, dia langsung pulang ke kampungnya dan menjual emas tersebut namun 3 bulan kemudian tewas dan harta serta emas batangan yang telah terjual lenyap secara gaib. Tak lama kemudian, di lokasi yang sama 1 kuli bangunan ikut tewas karena terjatuh dari ketinggian dan 1 sopir buldozer meninggal karena hendak menghancurkan bunker tersebut. Alat buldozer sendiri rusak karena tidak kuat menghancurkan bunker, akibat dari kejadian itu 1 bunker Belanda di lokasi itu dibiarkan tetap utuh hingga sekarang.

Tak hanya bunker, sejumlah benda cagar budaya yang ada di Kota Bogor terbengkalai dan tidak terawat sehingga terancam hilang atau punah karena tergerus pembangunan yang kian marak. Padahal, Kota Bogor merupakan kota yang kaya akan prasasti bersejarah.

Selain bunker, Batu Dakon yang berlokasi di Gang Raden Saleh, Empang, Kota Bogor itu masih menjadi saksi sejarah di tengah padatnya pemukiman penduduk. Kondisinya sangat memprihatinkan, Batu jenis andesit dengan sepuluh lubang yang tersisa namun jika dihitung kembali jumlahnya selalu berubah itu seperti mainan congklak ini terletak berhimpitan dengan rumah warga. Di sekitarnya banyak tanaman yang tidak terurus. Sekilas, tak ada yang tahu jika di balik tembok tersebut ada peninggalan prasejarah. Batu dakon ini merupakan peninggalan masa prasejarah sebagai media pada upacara adat masyarakat pada masa itu.

Jika ingin melihatnya, pengunjung harus masuk ke dalam gang sempit berukuran 1,5 meter sejauh hampir 200 meter. Lokasinya juga tertutup oleh bangunan rumah yang ada di sekitar lokasi cagar budaya. Situs purbakala ini menjadi aset sekaligus saksi sejarah Bogor. Hanya saja, sampai saat ini upaya penyelamatan benda cagar budaya belum terlihat dilakukan oleh Pemkot Bogor hampir semuanya dalam kondisi yang memprihatinkan. Dikhawatirkan, benda cagar budaya ini akan hilang akibat maraknya pembangunan penyelamatan atau pelestarian situs belum menjadi prioritas.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor, Shahlan Rasyidi mengatakan, meski seiring perkembangan kota dan pertambahan penduduk, jangan sampai menjadikan Bogor kehilangan bangunan peninggalan sejarah.

Dia menyebutkan, Kota Bogor sebagai salah satu kota yang banyak peninggalan di era kolonial Belanda mulai terkikis seiring kemajuan. Bahkan, banyak bangunan beralih fungsi menjadi tempat komersial. Sedikitnya, sambungnya, ada 560 BCB yang tidak bergerak dan 264 BCB yang bergerak dan tersebar di enam wilayah kecamatan se-Kota Bogor.

Ia menjelaskan BCB yang tidak bergerak antara lain meliputi, bangunan pemerintahan, pendidikan, penelitian, keagamaan, gedung komersial dan permukiman, serta sarana olahraga, yakni kolam renang.

Kebanyakan bangunan bersejarah tersebut merupakan peninggalan era kolonial Belanda. Bangunan cagar budaya yang paling tua dibangun pada 1745, yaitu Istana Bogor. Sedangkan bangunan paling baru bertahun 1940.

Bangunan-bangunan tersebut dalam sejarah tercatat sebagai struktur yang memakai arsitektur bergaya Indis. Istilah Indis berasal dari bahasa Belanda, Indische, yang artinya perpaduan antara pribumi dan Eropa (arsitektur Belanda).

Sebagian besar bangunan berdiri di lokasi sepanjang jalan yang dulu dikenal dengan naman Jalan Raya Pos tapi sekarang bernama Jalan Ahmad Yani, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Suryakencana, Sukasari sampai ke arah Puncak menjadi salah satu sudut dari potret besar nasib situs purbakala yang tidak terkelola dengan baik. Kerusakannya terjadi karena adanya alih fungsi dan gesekan budaya. Sejumlah benda cagar budaya yang tidak terurus dan kondisinya memprihatinkan bukan semata menjadi tempat bagi artefak kuno, keberadaan situs purbakala mempunyai nilai penting bagi ilmu pengetahuan, sejarah, dan juga teknologi. Bahkan, situs purbakala harus dilihat sebagai jejak masa lalu sebuah bangsa. Dari jejak masa lalu itulah kita bisa melihat bagaimana karakter kita berkembang dan tumbuh, dan memproyeksikan masa depan kita sebagai sebuah bangsa. (rhm)

Tinggalkan Balasan