Efektifkah Penanggulangan Demam Berdarah Dengan Cara Pengasapan (FOGGING)?

0 175

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Penyakit demam berdarah sampai saat ini masih menghantui Indonesia. Teristimewa bagi Kota Bogor dengan daerah bercurah hujan tinggi yang menguntungkan bagi penularan penyakit ini. Karena bukan hanya penularannya yang begitu cepat dan sulit untuk diprediksi, tetapi perjalanan penyakit ini selalu dekat dengan kematian. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan penanganan penyakit demam berdarah itu “time is life”, terlambat sedikit saja penanganannya, maka penderita akan segera menghadap yang Maha Kuasa.

 

Demam berdarah atau lengkapnya Demam Berdarah Dengue (DBD) disebut demikian karena penyakit ini ditandai dengan demam dan manifestasi perdarahan. Masyarakat awam sering keliru menganggap bahwa penyakit ini disebabkan oleh nyamuk. Padahal embel-embel “dengue” menyatakan bahwa demam berdarah disebabkan oleh dengue, yaitu sejenis virus (arbovirus, family flaviviridae) yang menimbulkan reaksi kekebalan tubuh yang dasyat, sehingga berakibat terganggunya fungsi tubuh serta kebocoran pembuluh darah. Inilah yang akan menimbulkan efek demam dan perdarahan dengan berbagai gejala yang benar-benar membuat tubuh tidak nyaman dan terganggu. Jika keadaan ini berlangsung terus maka tubuh akan merespon dengan terjadinya syok, dan keadaan ini bisa dikatakan fase kritis yang benar-benar mengancam jiwa.

Lalu apa hubungannya nyamuk dengan penyakit DBD ini? Kita tahu bahwa virus Dengue tidak akan serta merta menjangkiti manusia kalau tidak dalam keadaan tertentu. Keadaan yang dimaksud adalah pertama virus harus hidup dalam tubuh inangnya yang dalam hal ini manusia penderita DBD. Kedua untuk menjangkiti manusia lain, virus harus bisa keluar dari tubuh inangnya, bertahan hidup dan bisa masuk ke dalam tubuh manusia lainnya. Ketiga, siapa yang berperan dalam menjemput virus dari tubuh manusia, mempertahankannya, kemudian memasukkan virus kembali ke dalam tubuh manusia yang lain? Berdasarkan penelitian, nyamuklah yang memiliki peranan ini dengan sifatnya sebagai pengangkut dan penular (vector). Nyamuk yang dimaksud adalah nyamuk jenis Aedes yang terdiri atas jenis Aedes albopictus dan Aedes aegypti. Jenis nyamuk yang ditulis terakhir, disebut sangat berperan dalam menularkan virus dengue, terutama di daerah perkotaan. Virus akan masuk ke dalam tubuh nyamuk saat nyamuk aedes menggigit seseorang yang tubuhnya sudah terdapat virus dengue. Kemudian saat nyamuk aedes menggigit manusia lain, maka virus dengue akan masuk ke tubuh orang tersebut, mengandakan diri dan menyebar. Virus dengue akan berada dalam tubuh manusia selama 4-7 hari dan keadaan ini cukup untuk menimbulkan berbagai gejala hingga keparahan seperti yang telah ditulis sebelumnya. Penularan virus pun akan terjadi pada saat tersebut jika nyamuk menggigit penderita DBD kemudian menggigit manusia lain yang tidak sakit.

Kalau begitu, maka biang kerok dari penularan penyakit ini adalah nyamuk aedes, terutama aedes aegypti, maka harus diberantas. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita memberantas nyamuk tersebut? Dalam arti cara yang benar-benar efektif, walaupun kita tidak mungkin memberantas seluruh nyamuk aedes di dunia ini, karena berhubungan dengan keseimbangan alam. Saat ini kita sering memberantas nyamuk dengan cara pengasapan (fogging). Setiap ada kasus DBD di dalam benak kita adalah segera memberantas nyamuk dengan cara tersebut agar tidak terjadi penularan atau tidak muncul kasus DBB baru. Tapi cukupkah penanggulangan demam berdarah dengan cara pengasapan tersebut? Fogging sebenarnya adalah salah satu metode untuk membunuh nyamuk terutama efektif terhadap nyamuk dewasa. Lalu bagaimana dengan nyamuk yang belum dewasa, yang dalam hal ini masih berbentuk jentik (larva)? Sudah pasti tidak akan tertangani dengan cara ini, karena jentik hidup di air yang terlindung dari asap. 

Kemudian ketika udara telah bersih dan siap menjadi dewasa, maka nyamuk akan kembali berbahaya menularkan virus dengue. Berarti cara ini tidak terlalu efektif walaupun menjadi favorit untuk sebagian masyarakat. Lalu cara apa yang lebih efektif? Tidak lain dan tidak bukan adalah cara hidup yang bersih dan sehat. Cara ini bukan hanya untuk diri setiap orang yang benar-benar ingin terhindar dari penyakit DBD, tetapi juga untuk lingkungan sehingga dapat saling menunjang. Bagaimana melakukannya?

Pertama-tama hiduplah dengan cara sehat, makan makanan gizi seimbang, istirahat cukup, olahraga teratur dan berekreasi, serta jangan lupa memperhatikan kesehatan lingkungan. Khusus untuk nyamuk aedes ini, kita bisa mengusahakan agar tidak berkembang biak, yaitu mengurangi tempat-tempat perindukkannya hingga membasmi larvanya. Paling utama adalah mencegah agar nyamuk ini tidak leluasa untuk menggigit manusia, dengan menggunakan penghalang atau pengusir nyamuk di tempat kita beraktivitas. Kegiatan ini dinamakan dengan tiga em plus (3 M Plus) yaitu menguras, menutup dan mengubur semua benda atau barang yang tidak lagi digunakan tetapi berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk aedes. Kemudian plusnya adalah menghalangi atau mengusir nyamuk baik dengan menggunakan benda penghalang (kelambu dan lain-lain) maupun zat-zat yang tidak disukai nyamuk seperti zat gosok beraroma bunga lavender. Jentik nyamuk juga dapat dibunuh dengan larvasida atau menjadi santapan ikan cupang.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan program untuk mencegah dengue (disebut program “Integrated Vector Control“) yang mencakup 5 (lima) bagian yang berbeda :

  • Advokasi, menggerakkan masyarakat, dan legislasi (undang-undang) harus digunakan agar organisasi kesehatan masyarakat dan masyarakat menjadi lebih kuat.
  • Semua elemen masyarakat harus bekerja bersama. Ini termasuk sektor umum (seperti pemerintah), sektor swasta (seperti bisnis/perusahaan), dan bidang perawatan kesehatan.
  • Semua cara untuk mengendalikan penyakit harus harus terintegrasi (atau dikumpulkan), sehingga sumber daya yang tersedia dapat memberikan hasil yang paling besar.
  • Keputusan harus dibuat berdasarkan pada bukti. Ini akan membantu memastikan bahwa intervensi (tindakan yang dilakukan untuk mengatasi dengue) berguna.
  • Wilayah di mana dengue menjadi masalah harus diberi informasi dan pengetahuan, sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk merespon dengan baik penyakit dengan usaha mereka sendiri.

 

Upaya-upaya tersebut di atas telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor. Pada dasarnya kita berharap agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan akibat DBD, dan seluruh masyarakat Kota Bogor terhindar dari penyakit tersebut, dapat hidup sehat dan berproduktif.

 

 

Oktober 2018

Seksi Infokes dan Humas

Dinas Kesehatan Kota Bogor

 

Catatan :

Fogging dilakukan saat aktifitas puncak nyamuk menghisap darah yaitu pada pagi hari jam 07.00-09.00 atau sore hari jam 15.00 – 17.00 waktu setempat. Fogging sebaiknya dilaksanakan pada kondisi tidak hujan, angin, dan menghindari suhu udara yang relatif panas.

 

Sumber :

Pedoman Pengendalian DBD di Indonesia

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehat Lingkungan

Comments
Loading...