Tawuran, Salah Siapa?

0 623

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tawuran pelajar bukan kejadian yang aneh di mata masyarakat. Tawuran seakan menjadi “tradisi” sekolah menjelang awal tahun ajaran baru. Alasannya, untuk menguji seberapa jagoan dan pemberaninya calon anggota geng atau istilahnya, junior. Senioritas ditingkat sekolah sangat bermacam modelnya, ada siswa yang sukanya mem-bully temannya lewat media sosial atau membully langsung di sekolah, ada pula yang memaksa adik kelas untuk ikut bergabung ke dalam “geng” yang dianggap jagoan. Tapi, tetap saja, usia sekolah merupakan usia yang rentan terhadap pergaulan. Ketika orang tua dan guru mendidik dengan baik siswa, siswa tersebut akan terbentuk menjadi siswa yang berprestasi, sebaliknya, ketika orang tua membiarkan anaknya untuk memilih sendiri pergaulannya ditambah guru yang tidak pernah mengangap “ada” siswa tersebut, maka siswa akan terbentuk menjadi dirinya yang tanpa kendali orang tua dan guru sehingga mudah masuk ke dalam “virus” kenakalan remaja seperti narkoba, seks bebas, sampai tawuran.
Bersamaan dengan tahun ajaran baru dan final piala dunia membuat kondisi rentan sekali tawuran, maka disaat-saat inilah semestinya orang tua dan guru mengontrol ketat siswa. Mendukung grup bola yang berbeda, serta menggunakan yel-yel yang menyinggung ketika kegiatan nonton bareng (nobar) dapat memicu dendam yang berakhir perkelahian antar kelompok seperti kasus yang terjadi baru-baru ini. RF, siswa salah satu Sekolah Menengah Atas ini menghembuskan nafas terakhir ditangan siswa yang menghajarnya dengan celurit usai nobar. Lalu, apa saja yang memicu tawuran terjadi? Tawuran terjadi dikarenakan banyak faktor yang secara garis besarnya adalah kurangnya perhatian guru dan orang tua dalam mengawasi siswa sehingga siswa merasa bebas menentukan jalan hidupnya di sekolah, pergaulannya, serta semua kegiatannya sehari-hari.
Faktor pertama yang memicu terjadinya tawuran adalah siswa merasa kurangnya perhatian orang tua atau keluarga di rumah, entah karna orang tua yang divorced, atau kesibukan orang tua sehingga anak hanya diberikan materi seperti sekolah yang bagus, uang saku yang banyak, fasilitas komunikasi yang mahal, dan perlengkapan sekolah serta hal-hal lain berupa materi. Orang tua seakan lepas tangan setelah memberikan semua itu kepada anak dan mempercayakan sepenuhnya kinerja guru terhadap anaknya, padahal guru pun tidak hanya membimbing satu dua anak, tetapi puluhan bahkan mengawasi ratusan anak yang menjadi tanggung jawabnya. Maka, orang tua lah yang berperan penting untuk mendidik dan mengontrol anak sehingga anak tidak merasa kesepian dan tidak memiliki perhatian.
Yang kedua tentu yang paling penting setelah orang tua adalah perhatian dari guru. Harus dipahami, bahwa murid memiliki kapasitas otak yang berbeda-beda, ada yang cepat menerima pelajaran, namun ada yang lambat menerima palajaran, hal seperti ini menjadi ujian bagi guru kelas untuk berlaku adil untuk memberikan treatment pengajaran kepada masing-masing murid. Guru sebaiknya tidak hanya menuji murid yang menyerap pelajaran dengan cepat saja lalu “membully” siswa yang menyerap pelajaran kurang cepat, sehingga teman-temannya yang lain mengecap siswa yang menerima pelajaran dengan cepat adalah siswa pintar dan banyak teman, dan siswa yang lambat menerima pelajaran adalah siswa bodoh dan menjadi minoritas di kelas, dijauhi oleh teman sekelas dan menjadi bahan bully-an. Siswa tersebut akan mencari teman yang memiliki perasaan yang sama dan terbentuklah sebuah kelompok yang memiliki ketertarikan yang sama. Dengan berkelompok, mereka mencoba untuk membuat jiwa mereka yang sebelumnya minder di kelas menjadi pemberani dan semua orang harus takut padanya. Tawuran menjadi sebuah pengujian seberapa kuatnya seorang anggota geng dan seberapa berpengaruhnya “kontribusi” untuk geng/kelompok. Di sekolahlah, urgensi pengawasan guru kepada setiap murid perlu diperhatikan dengan ketat karena ketika tawuran sudah terjadi, nama sekolahlah yang dibawa.
Yang ketiga, pengaruh pergaulan. Geng yang memiliki kegiatan ekstrim seperti pemalakan dan tawuran tentu membutuhkan biaya yang besar untuk memuaskan hasrat premanisme mereka. Maka, rekrutmen yang besar-besaran akan dilakukan dengan berbagai cara seperti dengan pembullyan (contoh: yang tidak ikut tawuran dianggap lemah dan penakut), pamaksaan berikut pengancaman dan penjebakan. Inilah pentingnya seorang siswa memiliki self-control agar lebih selektif memilih teman. Rekrutmen ini diperlukan kelompok untuk membeli perlengkapan tawuran, akomodasi , dan terkadang melengkapi diri mereka dengan pengaruh minuman keras sehingga menjadi “dopping” supaya kuat di lapangan melawan geng lain. Rekrutmen ini juga diperlukan untuk menambah massa supaya memiliki peluang menang yang besar melawan geng sekolah lain.
Yang keempat, tawuran merupakan tradisi sekolah yang setiap tahun “wajib” hukumnya untuk dilaksanakan, jika tidak atau menolak sekolah lain dalam ajang ini, maka geng sekolah ini akan dianggap lemah, penakut, sekolahnya tidak keren alias siswanya cupu. Alih-alih “menyelamatkan” nama sekolah dengan membela habis-habisan sekolah dengan jiwa dan tenaga mereka dalam tawuran, tapi yang terjadi adalah mencemari nama sekolah, membuat malu kepala sekolah dan guru, serta murid yang berprestasi. Dapat dikatakan, tawuran malah membuat nila setitik rusak susu sebelanga. Tawuran menjadi tradisi karena setiap eks-anggota alumni masih merasa memiliki kewajiban untuk “mendidik” juniornya walaupun setahun dua tahun kemudian alumni tersebut akan lepas tangan dan melupakan masa lalu yang sebetulnya tidak patut untuk dilakukannya dulu tanpa menyadarkan adik-adik kelasnya kini yang masih terjerat tradisi tawuran.
Yang pada intinya, tawuran terjadi akibat lingkungan yang membuat siswa minder, tidak percaya diri di kelas, tidak dihargai dan dipandang sebelah mata oleh teman-teman “normal” lainnya sehingga mencari lingkungan yang memiliki perasaan yang sama dan bersama-sama membangun jiwa yang lebih pemberani dan disegani oleh teman-teman yang sebelumnya memandang sebelah mata walaupun cara ini adalah cara yang salah.
Tawuran pelajar juga menjadi permasalahan yang krusial bagi pemerintah daerah atau kota, pemerintah memiliki tanggung jawab besar untuk mendidik siswa dan menjaga ketertiban umum sehingga tidak ada warga yang memiliki mental pembunuh/premanisme. Segala macam langkah sudah dilakukan pemerinah, khususnya Pemerintah Kota Bogor dalam menangani tawuran pelajar, dari mengadakan sosialisasi sampai memberikan jeratan hukum penjara bagi pelaku namun tawuran masih saja menjadi “tradisi” yang susah dihapuskan di tingkat sekolah menengah pertama dan atas. Saya memiliki langkah solutif yang unik untuk meminimalisir angka tawuran pelajar dan meminimalisir hasrat pelajar untuk melakukan tawuran, yaitu dengan mengadakan talkshow dengan eks-alumni beberapa sekolah yang pernah merasakan pengalaman pahit di masa lalu, berbagi pengalaman bagaimana waktu yang terbuang sia-sia dan menyadarkan adik-adik supaya tidak lagi melakukan kegiatan tawuran ini. Bagaimana pun, siswa yang terjerat pergaulan ini masih bisa diubah tergantung kepada lingkungan yang mendidiknya (orang tua, guru, pemerintah). Kalau tidak ada upaya dari pemerintah untuk mengubah perilaku siswa yang gemar tawuran ini, maka sebuah kota akan terus memiliki warga yang memiliki jiwa preman, warga yang anarkis yang menjadi ketakutan masyarakat umum.
Lalu, bagaimana peran mahasiswa menyikapi krisis adik-adik ini? HMI merupakan Himpunan Mahasiswa yang berorientasi kepada intelektualitas dan keislaman, maka setiap kegiatan yang dilakukan HMI pasti berdasarkan pada ilmu dan agama islam. HMI dengan adik-adik di beberapa sekolah sering mengadakan kegiatan bersama dan dalam waktu dekat ini akan mengadakan program Sekolah Anak Bangsa yang salah satu kegiatannya adalah latihan kepemimpinan. Didalam kegiatan ini akan diasah mental siswa menjadi mental yang kuat, memiliki self-control yang baik dan melatih siswa mejadi pemimpin yang berintegritas dengan intelektualitas yang mumpuni, keislaman yang sesuai syariat serta jauh dari kesan anarkis. Semoga dengan program ini, HMI bisa lebih berkontribusi untuk negara dalam mengurangi angka tawuran.

Saeful Wahyudin Putra

Penulis adalah Ketua Umum HMI Kota Bogor 2018-2019

Tinggalkan Balasan