Siap Sekolah? Cek Dulu, Yuk..

0 600

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

“Wah.. kamu sudah lancar ya Dek, membacanya..apalagi berhitungnya..sudah siap dong masuk SD?” celetuk seorang ibu yang sedang mengajarkan anaknya.

Sepenggal kutipan di atas mungkin juga seringkali kita dengar di lingkungan, jika anak sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung maka dianggap sudah pintar dan siap masuk Sekolah Dasar (SD). Hal ini sangat disayangkan jika masih menjadi acuan utama untuk menetapkan kesiapan belajar anak sedangkan aspek-aspek lainnya tidak diperhatikan. Kesiapan anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SD dapat dilihat melalui banyak aspek, yakni aspek kemampuan motorik, keterampilan kognitif, visual-persepsi, regulasi emosi, keterampilan sosial, serta kemandirian.
Misalnya, pada kasus di atas, seorang anak perempuan, Ameylia, 5 tahun 10 bulan, sudah bisa membaca, berhitung, serta menulis kata, namun pada aspek lain seperti konsentrasi, daya tahan, regulasi emosi, serta kemandirian masih belum berkembang baik. Perhatiannya masih mudah teralih, keinginannya harus dituruti dan dapat menyakiti orang lain, serta toilet training masih harus dibantu. Tentunya hal tersebut perlu dioptimalkan terlebih dulu agar nantinya tidak menjadi kendala ketika anak berada di jenjang SD.
Sejak dini, sudah banyak orangtua yang memasukkan anaknya ke Play Group, dan dilanjutkan ke Taman Kanak-Kanak (TK) sehingga ketika usia anak 5 tahun orangtua menjadi kuatir, berpikir bahwa usia anaknya terlalu tua jika belum dimasukkan ke SD. Padahal sebagaimana aturan pemerintah sesuai dengan Undang – undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada 6 ayat (1) dikemukakan: “Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar”. Dengan demikian, jelas bahwa usia 7 tahun menjadi dasar untuk anak diwajibkan melanjutkan pendidikan di jenjang SD karena anak dianggap sudah matang.
Menurut teori perkembangan dari Piaget, pada usia 7 tahun, perkembangan kognitif anak berada pada level operasional konkret dan mulai menggunakan operasi mental serta berpikir untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Karakteristik anak pada level operasional kokret adalah anak mampu mengerjakan lebih dari satu aspek tugas atau bekerja dengan serangkaian tugas yang diberikan, dapat mengklasifikasikan suatu objek ke dalam kelas atau pun subkelas, mampu membuat pernyataan dengan beberapa dimensi, pembelajaran spasial, dan pemahaman ruang untuk memberikan petunjuk tentang cara mendapatkan sesuatu. Secara emosional pun anak juga sudah mulai mampu mengelola emosinya serta merespon emosi orang lain.
Kalau usia anak masih di bawah 5 tahun, ada baiknya tentu orangtua harus melakukan banyak pertimbangan terlebih dulu dan mengecek kembali apakah kemampuan anak benar-benar sudah siap di seluruh aspek perkembangannya untuk melanjutkan pendidikan ke SD? Sehingga jangan sampai orangtua merasa anak siap namun kenyataannya masih ada aspek-aspek yang harus dioptimalkan kembali.

Untuk mengetahui kesiapan sekolah pada anak perlu dilakukan ‘penilaian’ dalam beberapa aspek, yang umumnya dikenal dengan Tes Kematangan Sekolah atau Tes Kesiapan Sekolah. Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan professional dari psikolog yang akan mewawancarai orangtua si anak terkait perkembangannya, mendapatkan informasi dari guru di TK, dan tentunya observasi serta interaksi langsung dengan si anak. Selain itu, dapat pula dilakukan tes inteligensi untuk mengetahui kemampuan kognitif anak. Dengan demikian, nantinya dapat diketahui mengenai perkembangan diri si anak serta dapat diperoleh rekomendasi apakah anak sudah siap untuk melanjutkan pendidikan ke jejang SD atau tidak.
Tingkat kematangan anak tentunya berbeda-beda secara individu, hal ini dapat dipengaruhi oleh usia, level kemampuan kognitifnya, temperamen, pola pengasuhan, cara belajar anak, serta faktor lingkungan di sekitarnya. Umumnya, usia 6/7 tahun anak sudah matang/siap untuk sekolah, terkecuali bagi anak yang memiliki permasalahan seperti hambatan kognitif, masalah tumbuh kembang, hambatan bahasa, maka perlu penanganan khusus terlebih dulu.

Kesiapan sekolah anak tidak dilihat dari satu aspek saja, melakinkan penilaian keseluruhan aspek secara komprehensif mengenai anak. Jika anak dikatakan siap masuk SD namun masih ada catatan mengenai beberapa aspek yang belum siap, maka orangtua perlu bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mengoptimalkan aspek yang masih kurang tersebut. Misalnya, jika pada aspek kemandirian anak masih belum siap, maka tugas untuk orangtua di rumah adalah memberikan peran bagi anak terkait tugas sehari-hari di rumah, seperti setiap hari anak memiliki tugas untuk membawakan baju-baju kotor seluruh anggota keluarga ke keranjang cucian. Hal ini dapat menjadi kebiasaan yang menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab pada diri anak. Saat di sekolah, guru dapat memberikan peran bagi anak di kelas, misalnya bertugas untuk memimpin doa di pagi hari.
Oleh karena itu, sejak dini orangtua perlu memperhatikan tugas-tugas perkembangan anak sesuai usianya, sehingga nantinya dapat menerapkan pembelajaran yang disesuaikan dengan potensi serta kemampuan yang dimiliki si anak. Anak juga dapat merasakan bahwa belajar itu adalah hal yang menyenangkan dan menarik, seperti kegiatan bermain.

Finda

Psikolog Anak RS Azra

Tinggalkan Balasan