Prasasti Batutulis dan Tahta Raja-Raja Padjadjaran

0 2.485

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Letaknya di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Jika dilihat sekilas, kompleks prasasti itu tampak seperti rumah kecil biasa. Letaknya yang tepat di pinggiran jalan raya besar sedikit menghilangkan statusnya yang boleh dibilang ‘kramat.’ Di balik kesan sederhananya itu, prasasti yang berada di dalam kompleks kecil itu memiliki makna yang besar bagi Kota Bogor, bahkan bagi Tanah Pasundan secara keseluruhan karena nilai histori yang dimilikinya.

Keterangan yang terukir pada prasasti ini berangka tahun 1455 Saka (1533 Masehi), atau sudah berusia kurang lebih setengah abad dan keberadaannya bertepatan dengan masa kejayaan Kerajaan Sunda Padjadjaran dengan ibu kotanya Pakuan yang diyakini sebagai Kota Bogor sekarang.

Luas Kompleks Prasasti Batutulis memiliki luas 17×15 meter dan terletak di lokasi aslinya dan menjadi nama desa lokasi situs ini. Belum ada temuan ahli sejarah yang mengindikasikan bahwa batu-batu prasasti itu merupakan ‘pindahan’ dari lokasi aslinya, hingga membuat prasasti itu menjadi salah satu bukti yang paling autentik mengenai silsilah Raja-Raja Padjadjaran dan keberadaan kerajaan yang diselimuti oleh berbagai macam misteri itu.

Selain batu prasasti, di dalam kompleks ini juga terdapat benda-benda lain peninggalan Kerajaan Sunda yang dapat ditemukan. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dalam Bahasa dan Aksara Sunda Kuno. Prasasti Batutulis memiliki arti penting dalam sejarah berdirinya Kota Bogor. Prasasti itu dibuat di masa pemerintahan Surawisesa, anak Prabu Siliwangi (1521-1535). Prasasti itu diyakini merupakan tempat penobatan raja-raja, upacara keagamaan, dan tempat bersemayamnya Prabu Siliwangi dalam bentuk Lingga (lambang kesuburan) tanda kekuasaannya mampu melindungi negara dari ancaman musuh.

Kompleks Prasasti Batutulis memiliki 15 batu, di mana 6 buah batu cungkup berada di dalam bangunan yang tidak begitu luas, 1 buah di luar teras cungkup, dan 8 buah di serambi dan halaman. Prasasti Batu Tulis sendiri berada di dalam kuncup yang di dalamnya berukiran huruf-huruf Sunda Kawi atau Sunda Kuno. Besar huruf kurang lebih 3×3 cm berwarna keputihan.

Pada prasasti terdapat pahatan dalam aksara Sundo Kuno:

Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun, diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana… sampai beberapa baris ke bawah, yang jika diterjemahkan mengandung arti sebagai berikut:

“Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum, dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan.”
Dia putra Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka “Panca Pandawa Mengemban Bumi.”

Catatan yang terukir itu sedemikian pentingnya itu bagi masyarakat Pasundan sehingga pernah di 2002 saat seorang Menteri Agama RI yang menggali situs berdasarkan wangsit paranormal yang mengatakan terdapat harta karun di dalam Kompleks Prasasti Batutulis yang bisa membayar hutang Negara Republik Indonesia, masyarakat Bogor marah dan menuntut penghentian penggalian. Peristiwa itu sempat memunculkan kontroversi dan gejolak di kalangan warga Bogor dan Pasundan pada umumnya.

Semoga peristiwa seperti itu tidak terulang lagi mengingat pentingnya keberadaan situs itu bagi masyarakat Pasundan karena kandungan sejarah yang tak ternilai di dalamnya.

 

(Dudi Irawan)

Tinggalkan Balasan