Perjalanan Hotel Tiga Zaman : Salak The Heritage

0 520

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Hotel legendaris yang berhadapan dengan komplek Istana Bogor sudah beberapa kali berganti nama. Saat pertama kali didirikan, hotel itu tidak langsung dinamai Hotel Salak. Ia dinamai Binnenhof Hotel saat pertama kali berdiri. Namanya tersebut mengacu pada kata Binnenhof yang dalam Bahasa Belanda artinya komplek bangunan pemerintahan, di mana parlemen dan Perdana Menteri Belanda sering melakukan pertemuan. Sedemikian pentingnya nama tersebut bagi mereka hingga disematkan pada hotel yang sering dijadikan tempat menginap pejabat-pejabat penting Belanda di masa itu.

Dibangunnya hotel tersebut tidak lepas dari semakin populernya Hindia Belanda (Indonesia) sebagai destinasi turis mancanegara, terutama dari Belanda hingga akhirnya di masa tersebut Pemerintah Kolonial Belanda memandang perlu mendirikan berbagai fasilitas untuk para turis. Oleh karena itu, mereka mendorong berdirinya beberapa hotel baik di Jakarta maupun di Bogor, termasuk salah satunya adalah Hotel Salak Heritage yang kita kenal saat ini.

Adapun Hotel Binnehof yang dibangun untuk memfasilitasi turis-turis Eropa itu adalah milik kerabat dari Gubernur Jenderal Belanda saat itu, yakni Charles Ferdinand Pahud (1856-1861). Lalu, pada tahun 1870 hingga tahun 1880 hotel ini diperluas menjadi dua tingkat.

Di awal tahun 1900, terjadi perpindahan kepemilikan. Nama Binnenhof diganti menjadi nama Dibbets yang diambil dari nama seorang pemegang saham utama di perusahaan pemilik.

Tidak berapa lama berselang di tahun 1913, terjadi lagi perubahan pemegang Hotel Salak ini, kali ini kongsi bernama NV American mengambil alih (NV = Naamloze Vennootschap atau sama dengan Perusahaan Terbatas di Indonesia). Kembali hotel ini harus diganti namanya menjadi NV American Hotel.

NV American jatuh bangkrut di tahun 1922. Akhirnya E.A. Dibbets, manajer sekaligus pemegang saham utama di hotel ini mengambil alih. Setelah pengambil alihan, hotel tersebut dikembalikan namanya ke nama awal tahun 1900-an, yaitu Dibbets Hotel.

Pada tahun 1932, Hotel Salak namanya diubah kembali menjadi Bellevue Dibbets Hotel. Bellevue adalah kata dalam Bahasa Perancis yang artinya “Pemandangan yang Indah.” Rupanya panorama Bogor saat itu begitu memesona sehingga kata Bellevue ditambahkan di depan nama sebelumnya.

Pada masa Perang Dunia II, Jepang mengalahkan Belanda di Indonesia dan menduduki Indonesia tahun 1942 sampai 1945. Pada masa kependudukan Jepang ini, Hotel Salak berubah fungsi menjadi markas tentara Jepang. Tepatnya menjadi Markas Kempetai alias Polisi Militer Jepang.

Baru pada tahun 1948, hotel ini diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Di tahun itu pula hotel perak disematkan nama baru seperti yang dikenal sekarang, yaitu Hotel Salak The Heritage.

 

(Dudi Irawan)

Comments
Loading...