Masjid Atta’awun Puncak, Antara Mitos dan Fakta

0 3.280

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Beberapa tahun belakangan, muncul ‘hoax’ tentang seorang marbut masjid yang dikisahkan ternyata sebagai ‘pemilik’ Masjid Atta’awun Puncak Bogor. Orang yang disebut sebagai Ir. Ahmad ini digambarkan sebagai sosok sederhana yang bisa ditemukan oleh jemaah masjid sedang mengepel lantai masjid dan menggosok toilet. Ir. Ahmad disebut sebagai sosok yang berpendidikan, sukses, namun tetap sederhana walaupun lahir dan tumbuh dari kalangan yang bukan berada.

Cerita ini menyebar dengan cepatnya dan memberi inspirasi pada banyak orang walaupun pada akhirnya cerita ini harus diluruskan, karena sesungguhnya berdirinya masjid ini tidak lepas dari peran 50.000-an kepala keluarga se-Jawa Barat yang menyumbangkan uangnya demi pembangunan masjid yang agung ini.

Tolong-menolong, setia kawan, dan gotong royong dalam kebaikan dan ketakwaan adalah arti dari ‘Atta’awun’ yang disematkan pada masjid yang berdiri pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Karena berada dalam ketinggian inilah, tak aneh bila masjid ini akan terlihat dari Jalan Raya Puncak, jauh sebelum kita sampai ke sana.

Masjid Atta’awun memulai pembangunannya pada tahun 1987 dengan luas kurang lebih 10.000 meter persegi. Entah kenapa, banyak penduduk lokal yang menamai masjid itu dengan nama Masjid ‘Mba Tutut’ yang merujuk pada nama putri mantan Presiden Indonesia, Soeharto. Agak sulit melacak kaitan nama Mbak Tutut dengan masjid itu, namun akan menarik kalau ada yang bisa menarik benang merah antara keduanya.

Masjid Atta’awun diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, R. Nuriana pada tahun 1999 atau hampir dari 20 tahunan yang lalu. Inisiatif didirikannya masjid itu selain dipakai untuk beribadah bagi para pelancong dan orang-orang yang berkendara antar kota, ialah untuk menghapus stigma negatif dari daerah Puncak saat itu yang seringkali dikait-kaitkan dengan daerah hiburan malam yang lekat dengan kemaksiatan.

Masjid Atta’awun memiliki design yang unik dan indah dengan kubah besarnya. Di sekeliling masjid juga terdapat kolam ikan yang dipenuhi ikan hias koi dan di belakangnya terdapat sebuah Curug (air terjun) Atta’awun. Siapa pun yang salat di masjid itu akan merasakan ketenangan yang luar biasa dengan udara yang sejuk dan suara gemercik air yang terdengar jelas saat kita sedang salat.

Sesungguhnya masjid ini dibangun oleh PT. Gunung Mas, anak perusahaan PTPN VIII bekerja sama dengan Pemprov Jabar. PT. Gunung Mas mewakafkan tanahnya dan Pemprov Jabar membiayai pembangunannya melalui dana umat. Pembangunan dilaksanakan mulai tahun 1997 dan diresmikan penggunaannya pada 25 Maret 1999.

Soal kepemilikan Atta’awun sekarang, masjid cantik ini dulunya dibangun dan dikelola oleh Yayasan Dharma Bakti, yayasan milik Pemprov Jabar. Sekarang, yayasan ini sudah berganti nama menjadi Yayasan Darma Asri, dan masih tetap milik Pemprov Jabar.

Dana pembangunan masjid ini kurang lebih sebesar Rp 36 miliar memang benar-benar berasal dari saweran (gotong royong) sekitar 50.000 kepala keluarga se-Jawa Barat, menjadikannya salah satu masjid dengan pembangunan melalui dana bantuan umat terbesar di Indonesia.

Di lokasi yang sama, sebelum At-Ta’awun dibangun sebenarnya sudah ada masjid dengan ukuran lebih kecil dan sederhana, Al-Muttaqien namanya. Karena kesederhanaannya, dulu jarang dilirik pelancong.

 

(Dudi Irawan)

Comments
Loading...