Dedie Abdul Rachim, Mantan Direktur KPK Dampingi Bima Arya di Pilwakot Bogor

0 727

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Heibogor.com – Keputusan Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto menggandeng Dedie Abdul Rachim di Pilwalkot 2018 mengejutkan publik Bogor. Siapa Dedie Abdul Rachim? Pertanyaan ini masih belum terjawab lengkap oleh masyarakat Kota Bogor.

Dedie A Rachim merupakan pria kelahiran Garut, Jawa Barat, 6 April 1966. Berkarier selama 12 tahun di KPK, Dedie pernah menduduki berbagai macam posisi strategis di lembaga anti-rasuah itu. Mulai dari Direktur Dikyanmas, Plt Direktur LHKPN, Plt Direktur Litbang, Plh Deputi Pencegahan, dan terakhir di Direktur Pembinaan Jaringan dan Kerja Sama Antar Komisi dan Instansi (PJKAKI) KPK.

Dedie merupakan salah satu alumni Pondok Pesantren Al Ghazaly, yang terletak di Jalan Cempaka No. 6, Kebon Kalapa, Bogor Tengah, Kota Bogor, Ponpes Al Ghazaly sudah berdiri sejak 1970-an.

Mantan Direktur Pembinaan Jaringan dan Kerja Sama Antar Komisi dan Instansi (PJKAKI) di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu tercatat menjadi santri di Al Ghazaly selama 7 tahun sejak 1973 hingga 1980.

Saat itu, jenjang yang dijalani Dedie adalah Diniyah. Pendidikan Diniyah merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama Islam, baik formal, non-formal, maupun informal.

Penanggung Jawab Yayasan Islamic Center (YIC) Al Ghazaly, Ustadz Turmudi Hudri, membenarkan bahwa Dedie merupakan lulusan ponpes tersebut.

“Al Ghazaly dulunya hanya sebuah majelis atau pengajian di lingkungan ini sekitar 1970, kemudian konsern ke dunia pendidikan. Murid awalnya sekitar 400-600 santri. Kang Dedie saya dapat kabar menjadi santri masuk dari 1973 hingga 1980. Beliau mengaji di jenjang Diniyah,” ungkap Turmudi, Kamis (18/01/18).

Ia menambahkan, keluarga besar Al Ghazaly mengaku sangat bangga dengan sosok Dedie A Rachim yang mengamalkan ilmu agamanya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk mendidikasikan diri di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Alhamdulillah, saya melihatnya beliau mau belajar ngaji, belajar ilmu agama, akhirnya sampai meningkat jadi pejabat di KPK. Menurut saya pas. Agama itu sebuah ajaran yang diwahyukan Allah untuk Rahmatan Lil Alamin. Nah, posisi di KPK ini kan menjaga, mencegah, dan memberantas hal-hal yang tidak sesuai ketentuan Allah, termasuk korupsi. Karena korupsi salah satu PR berat di Indonesia,” terang dia.

Turmudi berharap, Dedie tetap istiqomah agar ilmu yang didapat dulu bisa bermanfaat bagi orang banyak.

“Alhamdulillah dari santri bisa seperi itu (pejabat KPK). Kami dari Al Ghazaly bangga punya alumni yang bisa ke lembaga yang bermanfaat buat negara seperti itu. Semoga tetap istiqomah,” kata Lulusan sarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) dan magister Universitas Indonesia (UI) ini.

Calon Wakil Wali Kota yang berpasangan dengan Bima Arya Sugiarto ini juga dinilai merupakan sosok yang santun di mata para pengajar dan rekan.

“Orang banyak kenal Kang Dedie itu santun, mudah komunikasi. Semoga beliau ini siap untuk menjadi abdi negara, bisa istiqomah, amanah, dan benar dalam menajalankan tugas. Di mana pun dia berposisi, Al Ghazaly sangat senang dan bangga punya lulusan yang berkiprah untuk mengabdikan diri. Selama itu masih di jalan agama, kami mendukung,” pungkas pria yang hobi pakai batik itu.

Dedie “dipinang” Bima Arya untuk maju sebagai calon Wakil Wali Kota Bogor dalam kontestasi Pilwalkot Bogor 2018-2023. Ia bersedia mendampingi Bima karena menilai kader Partai Amanat Nasional itu adalah tokoh muda yang energetik, berani, dan berwawasan luas. Kepemimpinannya di Kota Bogor pun dinilai cukup berhasil di banyak bidang.

Comments
Loading...