Tahun 2017 Penderita HIV/AIDS Capai 573 Orang, 28 Orang Meninggal

0 269

Heibogor.com – Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Rubaeah menjelaskan, pengendalian HIV/AIDS tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan semata, melainkan semua sektor terkait.

“Jadi, dalam hal ini semua instansi terkait dilibatkan. Ada dari Dinas Kesehatan, Dinsosnakertrans, Pemberdayaan Masyarakat, TNI, Kementerian Agama, semuanya itu terkait,” katanya.

Menurut Rubaeah, untuk menekan angka HIV/AIDS, pihaknya menyiapkan strategi dan rencana penanggulanganya melalui 3 zero.

“Berarti harus nol infeksi baru. Kasus infeksi baru itu sekarang belum ada dan jangan sampai ada. Kemudian nol kematian karena AIDS. Jadi kita upayakan yang AIDS ini juga bisa dipertahankan kesehatan tubuhnya. Selanjutnya, kita harapkan juga tidak ada diskriminasi melalui pencegahan HIV,” ujarnya di sela-sela kegiatan Saya Berani Saya Sehat di Lapangan Sempur, Selasa (19/12/17).

Dia berharap, dengan adanya kegiatan ini agar bersama-sama mengambil langkah-langkah ke depan bagaimana persoalan ini menjadi tanggung jawab bersama.

Pasalnya, tahun 2017 ini tercatat jumlah positif HIV 472 orang, AIDS ada 101 orang, dan 28 orang meninggal.

Kegiatan Saya Berani Saya Sehat di Lapangan Sempur, Selasa (19/12/17).

Dinas Kesehatan mendorong kesadaran masyarakat terhadap penyebaran HIV/AIDS dengan cara melakukan test HIV sejak dini. Memeriksakan diri untuk tes HIV sangat penting sebagai bentuk memberikan perlindungan kepada keluarga. Sebab, sejak 2015 penyebaran HIV/AIDS paling banyak ditemukan pada Laki-laki Suka Laki-laki (LSL) dan menggeser dominasi penyebaran HIV/AIDS karena penggunaan jarum suntik pada 2005 lalu.

“Kami menggencarkan program Temukan, Obati, dan Pertahankan (TOP),” ujarnya.

Ia menjelaskan, temuan dilakukan dengan pemeriksaan HIV yang sasarannya yakni kepada pasangan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), ibu hamil, Pasien IMS, Pasien TB, Pasien Hepatitis, populasi berisiko seperti LGBT hingga calon pengantin (catin). Jika dari hasil pemeriksaan ditemukan ada yang positif, penderita harus melakukan pengobatan HIV di enam Puskesmas atau empat rumah sakit untuk mendapatkan layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP).

“Pertahankan dilakukan melalui kerja sama dengan beberapa LSM seperti Rumah Singgah Peka, Sahira, Warna Lentera yang bertugas melakukan pemantau, dan pendampingan dengan koordinator di bawah Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bogor,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor Ade Sarip Hidayat mengatakan, HIV/AIDS menjadi permasalahan kesehatan utama di dunia, mengingat sifatnya yang tidak terlihat seperti penyakit-penyakit lainnya. Dirinya mengimbau semua aparatur wilayah, Camat, dan Lurah di Kota Bogor untuk lebih masif menyampikan informasi terkait penyebaran dan bahaya dari HIV/AIDS ke masyarakat, serta mengajak masyarakat untuk memeriksakan dirinya.

“Pemkot Bogor akan menggelar Kedai Sehat di CFD setiap dua minggu sekali untuk mengedukasi masyarakat terkait HIV/AIDS demi mewujudkan masyarakat Kota Bogor yang sehat dan mencapai target Getting 3 Zero,” pungkasnya.

Comments
Loading...